Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, Mei 17, 2021
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Kerap Jadi Buruan Saat Ramadan, Ini Fakta Timun Suri dari Ahli IPB

Timun suri.Buah timun suri.

Topcareer.id – Ada satu buah yang kerap identik dengan bulan puasa, yakni buah timun suri. Kesegaranya dijadikan es membuat buah ini laris sebagai menu buka puasa. Buah ini ternyata juga bermanfaat dikonsumsi selama bulan Ramadan.

Dr. Deden Derajat Matra, Dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikulura, Fakultas Pertanian membeberkan beberapa fakta menarik tentang timun suri yang perlu diketahui oleh khalayak.

Menurut Deden, timun suri sebenarnya bukan timun. Berdasarkan klasifikasi ilmiah, buah ini sebenarnya bukan termasuk timun karena morfologi, kariotipe kromosom dan struktur buah timun suri lebih dekat dengan melon.

Mengonsumsi buah ini setiap hari, menurut Deden tidak berbahaya. Dalam penjelasannya disampaikan bahwa buah ini memiliki kandungan gula yang didominasi dari jenis fruktosa.

“Nah, fruktosa ini merupakan jenis gula yang aman sehingga bagus untuk kesehatan terutama untuk penderita diabetes dengan konsumsi normal,” kata Deden, dikutip dari pers rilis IPB, Senin (19/4/2021).

Baca juga: Hindari Kebiasaan Makan Tidak Sehat Ini Selama Puasa Ramadan

Selain manfaatnya, Deden juga ajarkan cara aman mengkonsumsi buah satu ini. Menurutnya, semakin orange (warnanya) maka menunjukan kandungan betakaroten (sebagai provitamin A) lebih banyak.

Di pasaran, kata dia, kondisi timun suri yang merekah atau retak, biasanya juga dikatakan “meletek” dianggap sebagai pertanda matang dan lebih nikmat dibandingkan yang tidak meletek.

“Saya perlu meluruskan hal ini. Timun suri yang meletek (cracking) itu sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kekurangan hara kalsium sehingga bagian terluarnya rapuh dan tidak kuat,” jelas Deden.

“Faktor kedua, dapat disebabkan oleh kadar air tanah yang tinggi sehingga pecah buah. Konsumsi buah ini dalam keadaan meletek justru perlu berhati-hati karena kondisi fisik buah berpeluang besar terinfeksi bakteri yang berbahaya untuk sistem pencernaan,” ujarDeden.

Dari panen hingga dikonsumsi, buah ini tidak dapat lama disimpan pada suhu biasa. Hal tersebut disebabkan proses respirasi berkurangnya air yang semakin cepat. Waktu segar penyimpanan adalah satu minggu, dapat lebih lama jika disimpan pada suhu rendah di dalam kulkas.

Tinggalkan Balasan