Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, Mei 16, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Bukan Disuntik, Ilmuwan Kembangkan Vaksinasi Corona dengan Cara Dihirup

Topcareer.id – Virus corona menginfeksi inangnya melalui permukaan mukosa seperti lapisan saluran pernapasan. Para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology AS (MIT) kini telah mengembangkan strategi vaksinasi dengan cara dihirup yang langsung dikirim ke paru-paru dan meningkatkan respon kekebalan.

Para peneliti menunjukkan bahwa vaksinasi ini dapat memicu respons sel T memori yang kuat di paru-paru tikus dengan memberi mereka vaksin yang dimodifikasi untuk mengikat protein yang secara alami ada dalam lendir. Ini dapat membantu membawa vaksin melintasi penghalang mukosa, seperti lapisan paru-paru.

“Dalam makalah ini, kami secara khusus berfokus pada respons sel T yang akan berguna melawan virus atau kanker, dan gagasan kami adalah menggunakan protein, albumin, sebagai semacam kuda Troya untuk membuat vaksin melintasi penghalang mukosa,” kata Darrell Irvine, penulis senior studi ini dan juga sebagai Profesor Underwood-Prescott di departemen Teknik Biologi dan Ilmu dan Teknik Material serta anggota Ragon Institute of MGH, MIT, dan Harvard.

Baca Juga: BPOM Terbitkan EUA untuk Vaksin Covid-19 Sinopharm

Kebanyakan vaksin diberikan melalui suntikan ke dalam jaringan otot. Namun, sebagian besar infeksi virus terjadi pada permukaan mukosa seperti paru-paru dan saluran pernapasan bagian atas. Menciptakan garis pertahanan yang kuat di situs-situs tersebut dapat membantu tubuh menangkis infeksi dengan lebih efektif, kata Irvine.

“Dalam beberapa kasus, vaksin yang diberikan dalam otot dapat menimbulkan kekebalan pada permukaan mukosa, tetapi ada prinsip umum bahwa jika Anda memvaksinasi melalui permukaan mukosa, Anda cenderung memperoleh perlindungan yang lebih kuat di situs tersebut,” jelas Irvine.

Laboratorium Irvine ingin tengah meneliti vaksin peptida yang memiliki profil keamanan yang lebih baik dan lebih mudah untuk diproduksi, tetapi tantangannya agak sulit untuk melewati penghalang mukosa.

Untuk mencoba membuat vaksin peptida lebih mudah dikirim ke paru-paru, para peneliti mencoba menempelkan vaksin peptida ke protein albumin yang ditemukan di aliran darah untuk membantu peptida menumpuk di kelenjar getah bening, di mana mereka dapat mengaktifkan respons sel T yang kuat.

Baca Juga: Bio Farma Siapkan 18 Juta Dosis Vaksin pada Mei 2021

Awalnya vaksin tersebut diberikan melalui suntikan, seperti kebanyakan vaksin tradisional. Dalam studi baru mereka, para peneliti menyelidiki apakah albumin juga dapat membantu vaksin peptida melewati penghalang mukosa seperti yang mengelilingi paru-paru. Salah satu fungsi albumin adalah membantu menjaga tekanan osmotik di paru-paru, dan dapat dengan mudah melewati jaringan epitel yang mengelilingi paru-paru.

Untuk menguji gagasan ini, para peneliti memasang ekor lipid pengikat albumin ke vaksin peptida untuk melawan virus vaksinia. Vaksin ini juga termasuk bahan pembantu yang biasa digunakan yang disebut CpG, yang membantu memicu respons kekebalan yang lebih kuat.

Vaksin diberikan secara intratracheally yang mensimulasikan paparan inhalasi (dihirup). Para peneliti menemukan bahwa jenis pengiriman ini menghasilkan peningkatan sel T memori 25 kali lipat di paru-paru tikus, dibandingkan dengan menyuntikkan vaksin secara tradisional. Mereka juga menemukan bahwa ketika tikus terkena virus vaksinia beberapa bulan kemudian, vaksin intramuskular tidak memberikan perlindungan, sementara semua tikus yang menerima vaksin secara intratrakeal (dihirup) terlindungi.

Strategi ini juga dapat berguna untuk membuat vaksin mukosa untuk melawan virus lain seperti HIV, influenza, atau SAR-CoV-2 (COVID-19), kata Irvine. Laboratoriumnya sekarang menggunakan pendekatan yang sama untuk membuat vaksin yang memicu respons antibodi yang kuat di paru-paru dengan COVID-19 sebagai targetnya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan