Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, Mei 14, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

Kapten Suarniati, Nahkoda Wanita yang Lawan Diskriminasi untuk Pimpin Kapal

Topcareer.id – Kapten Suarniati adalah salah satu nahkoda wanita handal dari sedikit perempuan yang berhasil dan sukses menjadi pelaut.

Beliau adalah sosok Kartini di dunia transportasi Indonesia. Perjuangannya sebagai pelaut melawan diskriminasi dalam dunia pelayaran patut diacungi jempol.

Kisahnya untuk bisa menjadi pelaut sangat inspiratif bagi perempuan muda yang ingin mengikuti jejaknya di laut.

Menurut Kapten Suarniati, industri pelayaran di Tanah Air masih banyak yang tidak ramah bagi perempuan.

“Kita belum merasakan gender equality, karena belum semua perusahaan pelayaran mau menerima kita dengan tangan terbuka.” ujarnya dalam webinar bersama MTI, Senin (26/4/2021)

Secara kemampuan pelaut wanita tak kalah dengan pria, sehingga diskriminasi gender harusnya tak lagi terjadi. Namun faktanya masih banyak yang tak memberikan kesempatan pelaut wanita untuk berkarya di dunia pelayaran.

Wanita yang kini berkarier di perusahaan Samudera Indonesia ini menceritakan pengalamannya yang banyak sekali mengalami penolakan dari berbagai berbagai kapal.

Ia mengalaminya saat baru lulus dari sekolah pelayaran dan hendak melakukan praktik laut (prala) untuk bisa menjadi pelaut.

Para calon pelaut wajib menjalani prala atau praktik laut dengan menjadi kadet kapal dan berlayar selama setahun di laut.

Dahulu, Suarniati selalu melampaui beberapa senior yang belum lulus, kemudian ia mencari prala minimal 1 tahun untuk certificate of competency.

“Saya tiap ikut tes itu selalu lulus, di perusahaan manapun saya lulus. Cuma saat mau berangkat, saya pasti ditolak. Manajemen perusahaan menerima, tapi kapal yang nggak mau nerima perempuan, dia nggak mau ada wanita di kapal,” kisah Suarniati.

Suarniati pun terus berusaha mencari perusahaan kapal yang mau menerimanya, saat itu Samudera Indonesia dengan transparan dan fair menerima perekrutan kadet perempuan.

“Saya ikut tes, alhamdulilah saya lulus dan mereka tidak mempermasalahkannya. Saya senang berkarier di sini karena tidak ada diskriminasi gender.” Kata Suarniati.

Karir Suarniati pun berlanjut hingga mendapat gelar Master Marine dan dia pun bisa memimpin pelayaran kapal sebagai nakhoda. Namun diskriminasi masih saja terjadi padanya walaupun pangkatnya sudah cukup tinggi.

Suarniati menceritakan banyak kru pelayaran laki-laki yang menolak dipimpin olehnya. Mereka mengatakan perempuan tak layak memimpin kapal.

Baca juga: 11 Sekolah Pelayaran Dan Kelautan Yang Bisa Jadi Pilihan Kamu

Apakah menjadi pelaut selain smart harus berotot?
Menjawab pertanyaan ini, Suarniati menyampaikan untuk menjadi pelaut kekuatan fisik dan mental harus seimbang.

Menurutnya, kekuatan fisik berguna untuk bekerja secara profesional, sementara kekuatan mental untuk menghadapi kenyataan bahwa mereka akan meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan.

“Itu pengorbanan luar biasa yang harus pelaut jalani, terutama yang wanita.” Kata Suarniati.

Untuk wanita Suarniati berpesan, agar bisa menjadi pelaut wanita yang berhasil, kalau memang sudah memutuskan karier tersebut, yang pertama adalah memiliki moral dan integritas yang tinggi.

Tantangan bagi pelaut wanita menurut Suarniati adalah anak-anak muda sekarang terlalu banyak terpengaruh dengan kehidupan di sosial media.

Mereka ingin eksis berlebihan dan juga ingin pengakuan yang berlebihan, sehingga mereka lupa ada prestasi yang harus mereka ciptakan.

“Saya selalu memberi motivasi kepada junior calon pelaut wanita adalah harus percaya diri,” ujarnya.

“Harus percaya sama kemampuan, jangan pernah menganggap perbedaan gender menjadi batasan untuk berkarya, jangan percaya dengan anggapan wanita itu mahluk yang lemah, karena itu akan melemahkan diri sendiri.” tegas Suarniati.** (RW)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan