Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, Mei 17, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Rusia Tolak Kritikan Brazil Tentang Vaksin Sputnik V, Ini Alasannya

anggaran vaksinVaksin. Sumber foto: wsj.com

Topcareer.id – Pengembang vaksin Sputnik V asal Rusia menolak kritikan Brazil terhadap vaksin COVID-19 buatannya.

Dewan regulator kesehatan Brasil, Anvisa, dengan yakin tidak menyetujui vaksin Sputnik V asal Rusia setelah staf teknis mengkritik ada kekurangan dalam perkembangannya.

Penolakan datang bersama dengan data yang tidak lengkap mengenai keamanan dan kemanjuran vaksin asal Rusia tersebut.

Gubernur negara bagian di Brazil sebelumnya meminta izin untuk menggunakan Sputnik V saat mereka memerangi gelombang kedua virus corona.

Masalah krusial bagi regulator Brasil adalah risiko virus lain yang digunakan untuk membuat vaksin Sputnik V berkembang biak pada pasien.

Manajer obat-obatan dan produk biologis Anvisa Gustavo Mendes menyebutnya sebagai kerusakan yang serius.

Denis Logunov, pengembang utama Sputnik V, membantah bahwa dua vektor virus (adenovirus) yang mereka gunakan untuk membuat vaksin dapat bereplikasi.

Dia mengatakan setiap kelompok menjalani pemeriksaan ketat dari Institut Gamaleya dan pengawas kesehatan Rusia, tidak ada yang menunjukkan adenovirus bereplikasi.

Baca juga: Vaksin Sputnik V Laporkan Efikasi 92% Lawan COVID-19

“Vaksin itu bersih … dan tidak mengandung adenovirus yang kompeten untuk replikasi,” kata Logunov kepada wartawan.

Logunov mengatakan suntikan itu melalui proses pembersihan dan penyaringan empat tahap, yang menurutnya jarang terjadi di antara para pembuat vaksin.

“Ini membuat produksi kami jauh lebih mahal karena kami kehilangan sebagian dari produk kami. Tapi kami mencapai tingkat kemurnian yang luar biasa,” katanya.

Seperti AstraZeneca, Sputnik V adalah vaksin vektor virus. Menggunakan adenovirus untuk membawa informasi genetik yang perlu untuk menghasilkan kekebalan terhadap virus.

Vaksin ini memiliki rancangan khusus untuk melucuti vektor kemampuan virus dalam mereplikasi dirinya dalam tubuh manusia.

Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF) yang memasarkan vaksin Sputnik V di luar negeri, mengatakan bahwa Anvisa telah mendapat akses penuh ke lokasi penelitian dan produksi Sputnik V.

RDIF mengatakan penolakan Anvisa terhadap Sputnik V mungkin bermotif politik menyusul tekanan dari Amerika Serikat.

Mereka juga menganggap motif politiknya karena vaksin tersebut telah mendapat persetujuan di 61 negara.

Program vaksinasi Brazil telah rusak akibat penundaan dan kegagalan pengadaan pasokan vaksin, serta mengubah negara itu menjadi salah satu titik panas COVID-19 paling mematikan di dunia tahun ini, dan mendorong sistem kesehatan nasional ke ambang kehancuran.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan