Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, Juni 13, 2021
redaksi@topcareer.id
Profesional

4 Efek Psikologis dari WFH Berkepanjangan

Sumber foto: hibob.com

Topcareer.id – Penelitian ilmiah menyoroti manfaat kerja jarak jauh atau WFH bisa meningkatkan semangat serta produktivitas karyawan.

Pengaturan ini memungkinkan penyortiran diri yang signifikan, di mana karyawan tertarik pada pilihan yang paling sesuai dengan keadaan pribadi mereka.

Tetapi apa yang terjadi jika WFH sebenarnya bukan pilihan bagi orang yang tidak pernah bekerja dari rumah dan terpaksa melakukannya?

Ada alasan rasional untuk efek psikologis dan konsekuensi negatif dari pekerjaan jarak jauh yang berkepanjangan, berikut ini 4 efeknya.

Kesepian
Isolasi sosial adalah masalah nyata. Jika perusahaan tidak menempatkan jaringan dukungan dan keterhubungan virtual, akan banyak karyawan yang berisiko kesepian.

Tidak semua manajer pandai melakukan transisi dari manajemen analog ke Zoom. Lebih buruk lagi, krisis dapat meningkatkan ketidaksetaraan yang ada.

Kegelisahan
Ketidakpastian memicu kecemasan. Kebanyakan manusia dipersiapkan untuk mengoptimalkan habitat mereka untuk mengatasi kebosanan dan prediktabilitas.

Ketika manusia tidak dapat membuat rencana, mereka akan mengalami ketidaknyamanan dan ketidakberdayaan.

WFH berkepanjangan membuat orang bingung tentang rencana hidup dan gaya hidup mereka secara umum.

Mereka juga menjadi gelisah dengan prospek karier jangka panjang. Bahkan menjadi bingung untuk mengatur kehidupan pribadi dan hubungan ke depannya.

Baca juga: Terapkan WFH, Google Menghemat Rp 14.4 Triliun Per Tahun

Kurang sosialisasi mengakibatkan stres

Stres
Perubahan dalam bentuk apa pun menimbulkan kecemasan dan stres.

Inilah sebabnya mengapa prediktor terbaik tentang seberapa baik orang menghadapi WFH adalah apakah mereka pernah bekerja dari jarak jauh sebelumnya.

Ada perbedaan besar antara orang-orang yang memilih untuk bekerja jarak jauh sebelum krisis, yang melanjutkannya, dan yang terpaksa untuk WFH.

Orang yang telah bekerja dari rumah selama ini harus menyesuaikan diri dengan orang lain yang terpaksa beralih ke pekerjaan virtual.

Ada juga perbedaan yang signifikan dalam kemampuan orang untuk beralih ke WFH berdasarkan apakah mereka memiliki anak atau tidak.

Tidak ada yang bisa menggangtikan pertemuan langsung
Kita tidak mungkin begitu saja menghapus budaya bertemu langsung dengan komunikasi virtual.

Jika Zoom telah membantu menciptakan pengalaman tatap muka virtual, itu berkat teknologi sebagai kekuatan imajinasi manusia.

Menarik bahwa sebagian besar teknologi yang kita manfaatkan adalah tiruan pengalaman kehidupan nyata.

Tetapi perasaan umumnya adalah bahwa kontak virtual hanyalah pengganti sekadarnya dan tak seimbang untuk pertemuan langsung.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan