Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, Juni 20, 2021
redaksi@topcareer.id
Tips Karier

Sst… Ternyata Begini Cara Perusahaan Screening CV

Ilustrasi CV. Dok/Livecareer

Topcareer.id – Bagi para pekerja tentu tak asing lagi dengan curriculum vitae (CV). Bagaimana tidak, surat yang berisi banyak informasi pribadi kita ini menjadi salah satu penentu diterima atau tidaknya kita bekerja di suatu perusahaan.

Lalu bagaimana jika ada ribuan CV yang masuk ke suatu perusahaan sedangkan lowongan yang dibuka hanya tersedia untuk kandidat saja?

Nah, dikutip dari its.ac.id pada Jumat (4/6/2021), Senior Talent Qcquisition Blibli.com, Sely Ananda bagaimana perusahaan melakukan screening atau menyaring CV yang seabrek.

Menurut pengalaman Selly, biasanya divisi human resource (HRD) tidak melakukan screening CV secara manual, melainkan menggunakan sebuah perangkat lunak komputer yang disebut applicant tracking system (ATS). Hal ini untuk memaksimalkan efisiensi dan efektivitas proses screening itu sendiri.

“ATS ini melakukan proses screening dengan cepat berdasarkan kata kunci yang berkaitan dengan posisi pekerjaan, lalu membuat sistem ranking,” ujarnya.

Baca juga: Apakah Kamu Termasuk Milenial Geriatrik? Cek di Sini

Penggunaan ATS ini pun menjadi momok bagi para kandidat pekerja karena biasanya teknologi bekerja dengan aturan-aturan yang kaku seperti format dokumen dan penggunaan kata dalam CV.

Oleh sebab itu, Sely menyarankan agar para pelamar pekerja menggunakan dan menonjolkan kata kunci yang relevan dengan posisi yang dilamar, menggunakan format dokumen pdf, serta menggunakan jenis font yang mudah dibaca oleh komputer.

“Contoh jenis font-nya itu Sans serif atau Serif,” tuturnya.

Lebih lanjut, Sely juga mengatakan agar para pelamar kerja juga menghindari menggunakan bar persentase, penggunaan dua bahasa serta memberikan informasi yang berlebih dan tidak relevan karena dapat membuat CV justru terlihat penuh sehingga mengurangi tingkat kerapiannya.

“Untuk menyajikan kemampuan atau keahlian profesional, disarankan tidak menggunakan bar persentase karena tidak dapat diketahui aspek penilaiannya. Bahasa yang digunakan juga harus konsisten, tidak boleh mencampuradukkan dua bahasa atau lebih,” pungkasnya.**(Feb)

the authorSherley Agnesia

Tinggalkan Balasan