Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Juli 5, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Saat Inggris Akhiri Pembatasan COVID-19, Harus Senang atau Cemas?

Foto Ilustrasi

Topcareer.id – Ketika “hari kebebasan” Inggris dari pembatasan COVID-19 semakin dekat, kegembiraan diredam oleh kekhawatiran atas meningkatnya kasus.

Perdana Menteri Boris Johnson berencana untuk mengakhiri pembatasan COVID-19 pada hari Senin (19/7).

Ini berarti semua bisnis terakhir yang masih tutup, termasuk klub malam, akhirnya bisa dibuka kembali.

“Pada titik tertentu kita harus menemukan cara untuk bergerak maju,” kata Eugene Wild, salah satu pendiri klub The Cause di London utara yang telah ditutup sejak Maret 2020.

“Saya tidak berpikir kita bisa melewati ini lagi dan bertahan secara finansial,” tambahnya.

Di Belanda, klub malam dibuka selama dua minggu sebelum ditutup lagi sementara Israel juga menerapkan kembali pembatasan karena kasus meningkat.

Johnson mengakui bahwa gelombang infeksi ketika pembatasan berakhir akan lebih banyak dan tidak dapat dihindari.

Namun, Johnson mengatakan bahaya yang lebih buruk justru akan datang dari penutupan ekonomi dan ia percaya peluncuran vaksin yang berhasil telah mengurangi jumlah kasus serius.

Inggris memiliki angka kematian tertinggi ketujuh di dunia tetapi telah melihat dua pertiga orang dewasa menerima dua dosis vaksin.

Itu memberi Johnson kepercayaan diri untuk terus maju dengan pencabutan pembatasan setelah penundaan empat minggu karena Delta.

Para Ilmuwan Khawatir
Menteri kesehatan Sajid Javid mengatakan kasus COVID-19 bisa mencapai 100.000 per hari jika pembatasan dicabut.

Lebih dari 1.000 ilmuwan telah menandatangani surat untuk menentang strategi pemerintah sebagai hal “tidak ilmiah dan tidak etis.”

Para kritikus mengatakan strategi itu tidak hanya akan menyebabkan kematian tetapi juga meningkatkan risiko bagi mereka yang rentan secara klinis.

“Membiarkan infeksi mengamuk di negara ini adalah kesalahan yang berbahaya,” ujar Stephen Griffin, seorang profesor di School of Medicine di University of Leeds.

“Saya tidak percaya bahwa vaksin kami berada pada tingkat yang cukup untuk memungkinkan semua ini terjadi dengan aman.”

Baca juga: Remaja di Inggris Temukan Cara Palsukan Hasil Tes Positif COVID-19

Kecemasan mungkin menjadi faktor yang menyelamatkan negara dari skenario terburuk. Graham Medley, yang memimpin sub-kelompok model dari kelompok penasihat ilmiah pemerintah, mengatakan perilaku publik adalah variabel kunci.

“Ketidakpastian itu benar-benar hampir mustahil untuk dihilangkan karena kita tidak tahu bagaimana orang akan berperilaku.”

Dua pertiga orang di Inggris berpikir setidaknya beberapa pembatasan harus tetap berlaku setelah 19 Juli, satu survei menunjukkan.

Aturan lokal seperti masker yang tetap wajib di transportasi umum di London, mungkin juga berdampak.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan