Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Juli 5, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Canggihnya Teknologi Smartfoam! Berikan Robot Kemampuan untuk Memperbaiki Diri

Dok/Innovation News Network

Topcareer.id – Peneliti Singapura telah mengembangkan bahan smartfoam yang memungkinkan robot merasakan objek di dekatnya.

Tak hanya itu, teknologi smartfoam juga bisa memungkinkan robot untuk memperbaiki dirinya sendiri saat rusak, seperti halnya kulit manusia.

Smartfoam yang diberi saraf secara artifisial, atau AiFoam, adalah polimer elastis yang dibuat dengan mencampur fluoropolimer dengan senyawa yang menurunkan tegangan permukaan.

Hal ini memungkinkan bahan spons untuk menyatu dengan mudah menjadi satu bagian saat dipotong, menurut para peneliti di National University of Singapore.

“Ada banyak aplikasi untuk bahan seperti itu, terutama dalam robotika dan perangkat prostetik, di mana robot harus lebih cerdas saat bekerja di sekitar manusia,” jelas pemimpin penelitian Benjamin Tee.

Untuk mereplikasi indera peraba manusia, para peneliti memasukkan material tersebut dengan partikel logam mikroskopis.

Selain itu mereka juga menambahkan elektroda kecil di bawah permukaan busa smartfoam.

Ketika tekanan diterapkan, partikel logam semakin dekat di dalam matriks polimer, mengubah sifat listriknya.
Perubahan ini dapat dideteksi oleh elektroda yang terhubung ke komputer, yang kemudian memberi tahu robot apa yang harus dilakukan.

“Ketika saya menggerakkan jari saya di dekat sensor, Anda dapat melihat sensor mengukur perubahan medan listrik saya dan merespons sentuhan saya,” katanya.

Baca juga: Kenalkan Grace, Robot Perawatan Kesehatan Khusus COVID-19

Fitur ini memungkinkan tangan robot untuk mendeteksi tidak hanya jumlah tetapi juga arah gaya yang diterapkan, berpotensi membuat robot lebih cerdas dan interaktif.

Tee mengatakan AiFoam adalah yang pertama dari jenisnya untuk menggabungkan kedua sifat pemulihan diri dan kedekatan serta penginderaan tekanan.

Setelah menghabiskan lebih dari dua tahun mengembangkannya, ia dan timnya berharap materi tersebut dapat digunakan secara praktis dalam waktu lima tahun mendatang.

“Ini juga memungkinkan pengguna prostetik untuk menggunakan lengan robot mereka secara lebih intuitif saat mengambil benda,” katanya.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan