Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, September 21, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Ini Tekanan yang Dirasakan Atlet Olimpiade akibat Pandemi COVID-19

Olimpiade Tokyo

Topcareer.id – Isolasi dan tidak adanya keluarga serta kerabat dekat telah berdampak pada kesehatan mental atlet di Olimpiade Tokyo.

Semua atlet berjuang untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi, sambil membawa harapan negara mereka di panggung olahraga dunia.

Para atlet telah merasakan pelatihan pra-Olimpiade mereka terganggu oleh penguncian dan akses terbatas ke fasilitas atletik.

Banyaknya penundaan juga memicu kekhawatiran tentang jadwal kualifikasi dan kemampuan untuk melakukan perjalanan internasional tanpa tertular virus.

Keluarga dan sahabat mereka tidak dapat mendukung secara langsung di lapangan dan gerakan mereka sangat dibatasi.

Salah satu efek pandemi yang membuat atlet sangat terpukul yakni tim senam wanita AS yang dilarang menginap di tempat perkumpulan khusus atlet.

Mereka harus saling menjauh dan menginap di hotel terdekat untuk alasan keamanan, sesuatu yang sangat menghilangkan pengalaman Olimpiade.

“Kami bukan tidak memiliki pengaturan yang bagus,” kata salah satu atlet senam asal AS Simon Biles. “Kami terpaksa memilih ini agar aman dari COVID-19, protokol dan segalanya.”

Bahkan sebelum tiba di Tokyo, para atlet menghadapi tekanan baru dan asing terkait dengan pandemi.

Mereka harus menemukan cara untuk berlatih selama penguncian dan lolos ke acara olahraga terbesar di dunia tanpa mengorbankan kesehatan.

“Ini merupakan jalan yang sulit sejak 2019,” kata pesenam Angelina Melnikova dari Komite Olimpiade Rusia.

“Ketika kami mengetahui bahwa Olimpiade telah ditunda karena pandemi, basis pelatihan kami ditutup. Kami berada di karantina selama satu setengah tahun dan berlatih sepanjang waktu.”

Atlet yang tertular COVID-19 dalam perjalanan mereka ke Tokyo, terancam bisa menggagalkan tahun-tahun kerja keras mereka untuk masuk Olimpiade.

Perenang Inggris Tom Dean terkena COVID-19 dua kali menjelang ke Tokyo, itu memaksanya menghabiskan berhari-hari dalam isolasi dan menunda pelatihannya.

Namun demikian, atlet berusia 21 tahun itu memenangkan emas gaya bebas 200m putra pada untuk membantu Inggris memulai awal terbaiknya di Olimpiade.

“Saya tertular COVID dua kali dalam 12 bulan terakhir,” kata Dean. “Duduk di flat saya dalam isolasi, emas Olimpiade adalah satu juta mil jauhnya.”

Pemain anggar pedang Korea Selatan Oh Sanguk, sempat dirawat di rumah sakit selama sebulan karena COVID-19, kemampuannya pun memudar di perempat final dan kalah melawan pemain Georgia Sandro Bazadze.

“Saya merasa kekuatan fisik saya melemah, setiap kali saya memikirkannya, saya merasa tertekan dan kepercayaan diri saya merosot,” kata Sanguk.

Banyak juga atlet Olimpiade Tokyo yang harus berangkat meskipun baru kehilangan orang yang dicintai karena virus corona.

“Di podium, penonton melihat atlet sebagai mesin yang sedang berjalan dan harus berada di posisi satu,” kata Bernard Ouma, pelatih pelari Kenya Timothy Cheruiyot, juara dunia 1.500 meter.

“Di benak saya sebagai pelatih, saya melihat atlet sebagai manusia dengan tantangan sosial juga,” tuturnya.**(Feb) 

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan