Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juni 30, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Ilmuwan Terus Teliti Perkembangan Varian-varian Baru Corona

Kasus Positif Covid-19 Meledak, Ini Analisis Epidemiolog UGMVirus corona COVID-19. (ilustrasi: pexels)

Topacareer.id – Beberapa varian virus corona telah melengkapi dirinya dengan cara yang lebih baik untuk menginfeksi manusia atau menghindari perlindungan vaksin.

Banyak ilmuwan saat ini fokus pada Delta yang dominan di seluruh dunia. Beberapa terus melacak yang lain untuk segala kemungkinan.

DELTA
Varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India tetap menjadi yang paling mengkhawatirkan.

Delta menyerang populasi yang tidak divaksinasi di banyak negara dan telah terbukti mampu menginfeksi proporsi yang lebih tinggi dari orang yang divaksinasi daripada pendahulunya.

WHO mengklasifikasikan Delta sebagai variant of concern yang mengkhawatirakn.

Varian ini telah terbukti mampu meningkatkan penularan, menyebabkan penyakit yang lebih parah atau mengurangi manfaat vaksin.

Peneliti China menemukan bahwa orang yang terinfeksi Delta membawa virus 1.260 kali lebih banyak di hidung mereka dibandingkan dengan versi asli virus corona.

Beberapa penelitian A.S. menunjukkan bahwa “viral load” pada individu yang divaksinasi yang terinfeksi Delta setara dengan mereka yang tidak divaksinasi.

Sementara virus corona asli membutuhkan waktu seminggu untuk menyebabkan gejala, Delta dapat menyebabkan gejala dua hingga tiga hari lebih cepat.

Delta juga tampaknya bermutasi lebih lanjut, dengan laporan muncul dari varian “Delta Plus” yang terbukti menghindari perlindungan kekebalan.

LAMBDA
Varian Lambda telah menarik perhatian sebagai ancaman baru yang potensial.

Tetapi versi virus corona yang pertama kali diidentifikasi di Peru pada bulan Desember 2020 mungkin sedang surut.

WHO mengklasifikasikan Lambda sebagai variant of interest yang menarik perhatian, artinya membawa mutasi yang diduga menyebabkan perubahan penularan atau menyebabkan penyakit yang lebih parah, tetapi masih dalam penyelidikan.

Studi laboratorium menunjukkan Lambda memiliki mutasi yang melawan antibodi yang diinduksi vaksin.

CDC dan para ahli penyakit baru-baru ini mengatakan Lambda tampaknya tidak menyebabkan peningkatan penularan.

Vaksin juga tampaknya bertahan dengan baik untuk melawan Lambda, kata Dr. William Schaffner, seorang ahli penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center.

Baca juga: Bakal Seperti Apa Varian Covid-19 Selanjutnya? Ini Prediksi Para Ahli

B.1.621 (Dalam pengawasan)
Varian B.1.621, yang pertama kali muncul di Kolombia pada bulan Januari 2021 belum mendapatkan nama huruf Yunani.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa telah mendaftarkannya sebagai variant of interest yang menarik perhatian.

Sementara itu Public Health England menggambarkan B.1.621 sebagai varian yang sedang diselidiki.

Varian ini membawa beberapa mutasi kunci, termasuk E484K, N501Y dan D614G, yang telah dikaitkan dengan peningkatan penularan dan penurunan perlindungan kekebalan.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan