Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Januari 20, 2022
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Studi WHO: Kematian Akibat Hipertensi Didorong oleh Obesitas dan Kemiskinan

Dok/Antaranews

Topcareer.id – Hampir 1,3 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi, penyakit yang diam-diam membunuh ini kerap kali muncul akibat didorong oleh obesitas yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu (25/8).

Hipertensi dapat dengan mudah didiagnosis dengan memantau tekanan darah, dan diobati dengan obat-obatan murah.

Tetapi, setengah dari orang-orang yang terkena penyakit ini tidak menyadari kondisi mereka dan tidak segera diobati.

WHO dan Imperial College London melakukan sebuah studi bersama mengenai hal ini yang hasilnya telah diterbitkan di The Lancet.

Sementara tingkat hipertensi telah berubah sedikit dalam 30 tahun, beban kasus telah bergeser ke negara-negara berpenghasilan rendah.

Negara-negara kaya sebagian besar telah cukup berhasil mengendalikannya, kata studi WHO tersebut.

“Ini jauh dari kondisi kemakmuran, ini adalah kondisi kemiskinan,” Majid Ezzati, profesor kesehatan lingkungan global di Imperial College London, mengatakan pada konferensi pers.

“Banyak bagian Afrika sub-Sahara, sebagian Asia Selatan, beberapa negara kepulauan Pasifik, mereka masih belum mendapatkan perawatan yang dibutuhkan,” katanya.

Baca juga: Ini yang Bisa Dilakukan Penderita Hipertensi untuk Cegah Penularan Covid-19

Sekitar 17,9 juta orang meninggal pada 2019 karena penyakit kardiovaskular, dan hipertensi menjadi faktor utama, menurut WHO.

Terlepas dari faktor risiko genetik untuk hipertensi, ada “faktor risiko yang dapat dimodifikasi” yang terkait dengan gaya hidup. Kata Bente Mikkelsen, direktur departemen penyakit tidak menular WHO.

“Ini termasuk diet yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi tembakau dan alkohol, diabetes yang tidak terkontrol, dan kelebihan berat badan,” tuturnya.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan