Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juli 2, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Bukan Vaksinasi, Ternyata Covid-19 yang Timbulkan Risiko Pembekuan Darah Terbesar

Kasus Positif Covid-19 Meledak, Ini Analisis Epidemiolog UGMVirus corona COVID-19. (ilustrasi: pexels)

Topcareer.id – Sebuah studi baru menemukan, risiko pembekuan darah yang langka secara signifikan, timbul akibat tertular Covid-19. Risiko ini jauh lebih besar daripada divaksinasi.

Dalam studi peer-review yang diterbitkan dalam British Medical Journal pada Jumat, para peneliti dari Universitas Oxford, London School of Hygiene and Tropical Medicine dan beberapa universitas dan rumah sakit Inggris lainnya menganalisis data dari lebih dari 29 juta orang yang telah menerima dosis pertama mereka, baik vaksin Oxford-AstraZeneca atau vaksin Pfizer-BioNTech.

Penulis penelitian sepenuhnya independen dari pengembang vaksin Oxford-AstraZeneca.

Para ilmuwan melihat tingkat kejadian tromboemboli – pembekuan darah – dan trombositopenia, suatu kondisi dengan jumlah trombosit yang rendah.

Pembekuan darah langka dengan kadar trombosit rendah telah dikaitkan dengan vaksinasi Oxford-AstraZeneca Covid-19.

Makalah ini membandingkan tingkat pembekuan darah langka setelah dosis vaksinasi pertama dan setelah tes positif Covid-19.

Para peneliti menemukan bahwa risiko efek samping ini “secara substansial lebih tinggi” setelah infeksi Covid-19 daripada setelah menerima vaksin Oxford-AstraZeneca atau Pfizer-BioNTech.

Meski dalam delapan hingga 28 hari setelah dosis pertama vaksin Oxford-AstraZeneca, para peneliti mengidentifikasi peningkatan risiko kejadian pembekuan darah yang langka dan jumlah trombosit yang rendah.

Baca juga: Jenis Vaksin Ini Boleh Disuntikan Ke Anak Usia 12 Tahun Keatas

Dalam periode waktu yang sama setelah dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech, penelitian menemukan risiko pembekuan darah dan stroke yang disebabkan oleh aliran darah yang terbatas ke otak (stroke iskemik) meningkat. Namun, risiko ini secara signifikan lebih rendah daripada risiko yang ditimbulkan oleh infeksi Covid-19.

Para peneliti memperkirakan bahwa 107 dari 10 juta orang akan dirawat di rumah sakit atau meninggal karena jumlah trombosit yang rendah dalam waktu 28 hari setelah menerima dosis pertama vaksin Oxford-AstraZeneca. Sebaliknya, jumlah itu naik menjadi 934 orang per 10 juta orang setelah dinyatakan positif Covid-19.

Dalam 28 hari setelah dosis pertama vaksin Oxford-AstraZeneca, 66 orang per 10 juta dirawat di rumah sakit atau meninggal karena pembekuan darah di pembuluh darah, dibandingkan dengan 12.614 per 10 juta orang yang dites positif terkena virus.

Sementara itu, diperkirakan 143 orang per 10 juta dirawat di rumah sakit atau meninggal karena stroke iskemik dalam 28 hari setelah dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech, dibandingkan dengan 1.699 yang dinyatakan positif Covid-19.

Risikonya juga tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama setelah tertular virus corona daripada setelah vaksinasi, studi tersebut menyimpulkan.

Studi ini menganalisis catatan kesehatan elektronik yang dikumpulkan secara rutin untuk mengevaluasi risiko masuk rumah sakit untuk pembekuan darah dan jumlah trombosit yang rendah dalam 28 hari setelah infeksi atau vaksinasi.

“Orang-orang harus menyadari peningkatan risiko ini setelah vaksinasi Covid-19 dan segera mencari bantuan medis jika mereka mengalami gejala, tetapi juga menyadari bahwa risikonya jauh lebih tinggi dan dalam jangka waktu yang lebih lama jika mereka terinfeksi SARS-CoV-2,” kata Julia Hippisley-Cox, profesor epidemiologi klinis dan praktik umum di Universitas Oxford, yang juga penulis utama makalah tersebut, dikutip dari CNBC.**(Feb)

Tinggalkan Balasan