Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juli 2, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

Ilmuwan Terus amati Perkembangan Varian Virus Corona Baru selain Delta

virus corona varian deltaVirus Corona

Topcareer.id – Penyebaran virus SARS-CoV-2 yang terus berlanjut telah melahirkan varian alfabet Yunani.

Sistem penamaan ini dipakai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melacak mutasi baru virus penyebab COVID-19.

Beberapa virus telah berhasil menginfeksi manusia atau menghindari perlindungan vaksin dengan sempurna.

Para ilmuwan sejauh ini masih tetap fokus pada Delta yang menjadi varian dominan di seluruh dunia.

Namun, mereka juga tetap melacak varian yang lainnya untuk melihat apa yang mungkin terjadi suatu hari nanti.

Delta, masih dominan
Varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India tetap menjadi yang paling mengkhawatirkan.

WHO mengklasifikasikan Delta sebagai varian kekhawatiran, yang berarti telah terbukti mampu meningkatkan penularan, menyebabkan penyakit yang lebih parah atau mengurangi manfaat vaksin dan perawatan.

Menurut Shane Crotty, seorang ahli virologi di La Jolla Institute for Immunology di San Diego, “kekuatan super” Delta adalah kemampuan menularnya.

Peneliti China menemukan bahwa orang yang terinfeksi Delta membawa virus 1.260 kali lebih banyak di hidung mereka dibandingkan dengan versi asli virus corona.

Sementara virus corona asli membutuhkan waktu hingga tujuh hari untuk menyebabkan gejala, Delta dapat menyebabkan gejala dua hingga tiga hari lebih cepat.

Lambda, mulai menurun
Varian Lambda telah menarik perhatian sebagai ancaman baru yang potensial, tetapi versi virus corona ini tampaknya terus menurun.

Meskipun kasus yang melibatkan Lambda meningkat pada bulan Juli, laporan varian ini telah turun secara global selama empat minggu terakhir.

WHO mengklasifikasikan Lambda sebagai variant of interest, artinya membawa mutasi yang diduga menyebabkan perubahan penularan atau menyebabkan penyakit yang lebih parah, tetapi masih dalam penyelidikan.

Studi laboratorium menunjukkan Lambda memiliki mutasi yang bisa melawan antibodi dari vaksin.

Baca juga: Varian Covid-19 Delta dan Mu, Mana yang Lebih Berbahaya?

Mu, harus terus diawasi
Mu, varian yang sebelumnya dikenal sebagai B.1.621, pertama kali diidentifikasi di Kolombia pada Januari 2021.

Pada 30 Agustus, WHO menetapkannya sebagai variant of interest karena beberapa mutasi terkait, dan memberinya nama huruf Yunani.

Mu membawa mutasi kunci termasuk E484K, N501Y dan D614G, yang telah dikaitkan dengan peningkatan penularan dan penurunan perlindungan kekebalan.

Menurut Buletin WHO, Mu telah menyebabkan beberapa wabah yang lebih besar di Amerika Selatan dan Eropa.

Mu mewakili 39% varian yang diurutkan di Kolombia dan 13% di Ekuador, tempat-tempat di mana prevalensinya “meningkat secara konsisten,” lapor WHO.

Badan kesehatan global mengatakan terus memantau Mu untuk perubahan di Amerika Selatan, terutama di daerah di mana ia bersirkulasi bersama dengan varian Delta.

Maria van Kerkhove, kepala unit penyakit baru WHO, mengatakan sirkulasi varian tersebut menurun secara global tetapi perlu diamati dengan cermat.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan