Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, November 27, 2021
redaksi@topcareer.id
Tren

Menteri PPPA: Kepemimpinan Perempuan di RI Belum Maksimal

Ilustrasi (Dok. Entity)

Topcareer.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menekankan komitmen pemerintah untuk mengentaskan ketimpangan gender. Salah satu upayanya, yakni melalui peningkatan kepemimpinan perempuan di sektor-sektor dunia kerja.

“Data menunjukan bahwa kepemimpian perempuan di Indonesia belum maksimal. Dalam sektor publik, proporsi perempuan di kursi legislatif hingga saat ini belum memenuhi taget keterwakilan minimal sebesar 30 persen,” kata Menteri Bintang, dikutip dari pers rilis, Jumat (1/10/2021).

Sedangkan, tambah Menteri Bintang, dalam sektor profesional, situasinya tidak jauh berbeda. Proporsi CEO perempuan Indonesia, terlepas dari ukuran perusahaannya, hanya sebesar 15 persen. Menurut survey ILO (2020), pemimpin perempuan lebih banyak mengisi fungsi manajemen pendukung yang jarang membawanya pada posisi puncak dan pengambil keputusan di perusahaan.

Menteri Bintang menyayangkan rendahnya presentase kepemimpinan perempuan tersebut, padahal dikutip dari UN Women, kepemimpinan perempuan mampu meningkatkan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan dan membuat ruang bagi generasi kini dan nanti.

“Pada kesempatan ini, saya beserta jajaran Kementerian PPPA, mohon dukungan dari para advocates G20 Empower, serta berbagai stakeholder yang hadir untuk dapat menyebarkan semangat pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinannya di dunia kerja,” ucap Menteri Bintang.

Presiden Direktur dan CEO XL Axiata, Dian Siswarini menyampaikan rendahnya partispasi perempuan di bidang STEM (science, technology, enigeering, math).

Baca juga: Dirjen Dukcapil Minta Masyarakat Biasakan Ingat NIK

Representase perempuan yang lulus dari jurusan STEM dianggap cukup tinggi, namun semakin rendah ketika memasuki dunia kerja, apalagi pada level pengambil keputusan. Padahal menurut Dian, kepemimpinan perempuan pada akhrinya akan membawa keuntungan juga kepada perusahaan.

“Kesetaraan gender bukan hanya tujuan bagi kaum perempuan, tapi atas dasar pengertian bahwa kalau kita punya keragaman di level pemimpin maka akan memberikan peningkatan produktivitas dan profitabilitas perusahaan,” ujar Dian.
“Kalau keterwakilan perempuan di manajemen itu meningkat maka produktivitas meningkat. Karena itu sudah ada hasilnya dan berdasarkan penelitian-penelitian yang ada,” lanjut Dian.

Dalam memajukan ekonomi bangsa khususnya melalui pemberdayaan perempuan, masih ditemukan tantangan-tantangan dalam pelaksanaannya. Ketua Umum DPP IWAPI (Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia), Nita Yudi menyampaikan bahwa budaya patriarki, beban ganda pada perempuan dan stigma masih menghambat kemajuan karier perempuan.

Dalam mengatasi tantangan tersebut, Nita menghimbau untuk menerapkan upaya-upaya berikut:
1. Pekerjaan rumah dan pengasuhan menjadi tanggung jawab perempuan dan laki-laki;
2. waktu kerja yang fleksibel bagi laki-laki dan perempuan untuk dapat mengasuh anak atau orang tua;
3. memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengakses keterampilan;
4. menyediakan fasilitas pengasuhan anak;
5. kebijakan dan program yang afirmatif, kuratif, protektif dan non diskriminatif bagi pemerintah dan perusahaan;
6. terus mempromosikan manfaat keberagaman dan kesetaraan di dunia kerja; serta
7. mendorong kerja layak dan aman bagi perempuan dan program pengawasannya.

Tinggalkan Balasan