Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Senin, November 29, 2021
redaksi@topcareer.id
Covid-19

PAHO: Membatasi Perjalanan Orang karena Jenis Vaksin Bisa jadi Tindak Diskriminasi

Kemenkes jawab isu vaksin covid terdapat mikrocipFoto Ilustrasi vaksin covid-19

Topcareer.id – Negara-negara harus memberikan izin masuk bagi turis yang sudah divaksinasi atas COVID-19 terlepas dari suntikan apa yang mereka terima untuk mencegah diskriminasi dan memfasilitasi bisnis, kata seorang pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO), Rabu (20/10).

Dengan tingkat vaksinasi yang meningkat, negara-negara menghadapi pertanyaan baru tentang bagaimana menahan penyebaran COVID-19 sambil mengurangi pembatasan perjalanan akibat pandemi.

Amerika Serikat pekan lalu mengatakan akan membuka kembali perbatasan darat dengan Meksiko tetapi hanya mengizinkan orang yang telah diinokulasi dengan vaksin yang disahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara itu dua suntikan yang banyak digunakan di Meksiko yakni Sputnik V Rusia dan Cansino Biologics China tidak dianggap.

“Sangat penting bahwa negara-negara dapat mencapai kesepakatan bilateral, multilateral, sehingga semua vaksin yang digunakan dapat diterima,” kata Asisten Direktur PAHO Jarbas Barbosa dalam konferensi pers.

“Bisa memfasilitasi pariwisata, bisa memfasilitasi bisnis, itu untuk kepentingan masyarakat,” kata Barbosa.

Menurut Barbosa, menolak orang berdasarkan vaksin mereka dapat berdampak tidak adil pada turis tertentu.

“Ini tidak diragukan lagi dapat menciptakan semacam diskriminasi.” Barbosa menambahkan.

Baca juga: Amazon Rekrut Eksekutif Twitter untuk Atasi Masalah Diskriminasi

Jutaan orang Meksiko telah divaksinasi dengan suntikan Sputnik V dan Cansino. Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador mengatakan dia akan mendesak WHO untuk mempercepat persetujuan.

Empat puluh satu persen orang di seluruh Amerika Latin dan Karibia kini telah sepenuhnya divaksinasi terhadap COVID-19.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan