Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juni 30, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Perpustakaan Sampah, Upaya Tingkatkan Minat Baca dan Kesadaran Lingkungan

Dok/Reuters

Topcareer.id – Seorang pustakawan di desa Muntang, Purbalingga Jawa Tengah, meminjamkan buku kepada anak-anak yang mau menyerahkan sampah daur ulang.

Ini merupakan cara baru untuk membersihkan lingkungan dan membuat anak-anak lebih banyak membaca.

Raden Roro Hendarti setiap hari kerja berkeliling menggunakan kendaraan roda tiga dengan buku-buku yang ditumpuk di belakang.

Tujuannya untuk anak-anak di Desa Muntang agar bisa meminjam buku untuk dibaca, mereka cukup membayar dengan gelas plastik, tas plastik, dan sampah daur ulang lainnya.

Hendarti mengatakan kepada Reuters bahwa dia membantu menanamkan membaca pada anak-anak serta membuat mereka sadar akan lingkungan.

Setiap kali dia datang, anak-anak kecil yang ditemani oleh ibunya ramai mengelilingi “Perpustakaan Sampah” dan berebut meminta buku.

Mereka semua membawa kantong sampah dan kendaraan roda tiga Hendarti dengan cepat terisi penuh seiring dengan banyaknya buku-buku yang keluar untuk dipinjamkan pada anak-anak.

Dia mengaku senang karena anak-anak akan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk game online dan lebih banyak membaca.

“Mari kita bangun budaya literasi sejak dini untuk mengurangi dampak buruk dunia online,” kata Hendarti.

“Kita juga harus menjaga sampah kita untuk melawan perubahan iklim dan menyelamatkan bumi dari sampah,” tambahnya.

Hendarti bisa mengumpulkan sekitar 100 kg sampah daur ulang setiap minggunya.

Sampah tersebut kemudian akan dipilah oleh rekan-rekannya dan dikirim untuk didaur ulang atau dijual.

Dia memiliki stok 6.000 buku untuk dipinjamkan dan ingin membawa layanan seluler ke daerah tetangga juga.

Baca juga: Insinyur Ini Sukses Mendaur Ulang Sampah Plastik Menjadi Bata

Kevin Alamsyah, seorang pembaca setia berusia 11 tahun terus bersemangat mencari sampah di desa agar bisa mendapat pinjaman buku.

“Kalau sampah terlalu banyak, lingkungan kita kotor dan tidak sehat. Makanya saya cari sampah untuk membersihkan dan bisa pinjam buku,” ujarnya.

Jiah Palupi, kepala perpustakaan umum utama di daerah itu, mengatakan bahwa apa yang Hendarti lakukan telah melengkapi upaya mereka untuk memerangi kecanduan game online di kalangan anak muda dan mempromosikan membaca.

Tingkat melek huruf untuk anak di atas 15 tahun di Indonesia adalah sekitar 96 persen.

Namun, laporan bulan September lalu oleh Bank Dunia memperingatkan bahwa pandemi akan membuat lebih dari 80% anak berusia hingga 15 tahun berada di bawah tingkat kemahiran membaca minimum.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan