Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Januari 27, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19

PPKM Level 3 Batal, Epidemiolog UGM Sarankan Hal Ini Cegah Lonjakan Kasus

lima provinsi ini dominasi kasus covid-19 aktif di IndonesiaIlustrasi virus corona COVID-19. (pexels)

Topcareer.id – Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Bayu Satria Wiratama menyayangkan kebijakan yang diambil pemerintah dengan melakukan pembatalan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 selama libur Natal dan tahun baru (nataru).

“Alasan vaksin mencapai target itu kurang setuju. Kondisi COVID-19 membaik memang tapi vaksinasinya masih belum bagus,” kata Bayu dalam keterangannya pada rilis berita UGM, Rabu (8/12/2021).

Ia menyampaikan bahwa Indonesia belum memenuhi target WHO untuk mencapai vaksinasi Covid-19 sebesar 40 persen populasi.

Saat ini capaian vaksinasi Covid-19 di Tanah Air baru sekitar 37 persen populasi dengan kondisi yang belum merata. Misalnya, jumlah lansia masih kurang sekali dibandingkan dengan masyarakat umum dan pekerja.

Kendati membatalkan PPKM level 3, Bayu menilai masih ada beberapa kebijakan yang diadopsi untuk memperketat mobilitas. Salah satunya orang dengan status vaksin lengkap yang boleh bepergian dengan pesawat maupun jalur lainnya ditambah antigen 1×24 jam.

Bayu menilai kebijakan itu sangat bagus untuk membatasi mobilitas mereka yang belum mendapatkan vaksin dimana risikonya lebih tinggi untuk tertular atau menjadi sakit dibandingkan yang sudah mendapatkan vaksin.

Selain itu, aturan terkait perjalanan internasional juga diperketat sehingga baik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan karena kasus impor.

Baca juga: 100 Juta Penduduk Indonesia Telah Divaksinasi Covid-19 Dosis Lengkap

Peneliti Pusat Kedokteran Tropis UGM ini menegaskan pemerintah daerah dan pemerintah pusat tetap wajib meningkatkan kapasitas 3T (testing, tracing, treatment) menjelang periode nataru. Pasalnya, meski mobilitas berusaha dibatasi, namun jalur darat via kendaraan pribadi masih mempunyai kemungkinan lolos dari pengetatan.

“Oleh sebab itu, program 3T tetap harus ditingkatkan terutama testing dan tracing diperkuat dengan menambah kapasitas khusus menjelang periode nataru, memastikan logistik di faskes mencukupi, aktivasi isoter dan RS lapangan serta memastikan nakesnya tersedia,” teranngnya.

Tak hanya itu, Bayu mengimbau masyarakat untuk patuh 5M selama beraktivitas di periode nataru. Ia menambahkan, upaya skrining dengan aplikasi peduli lindungi juga harus lebih ketat dan konsisten.

“Jadi, sebenarnya ada PPKM level 3 atau tidak yang penting konsistensi dan pembatasan mobilitas bagi non vaksin, peningkatan 3 T terutama saat periode dengan mobilitas yang diprediksi meningkat, mempercepat vaksinasi dan cakupannya diperluas, serta disiplin 5M,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan