Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Wednesday, April 17, 2024
redaksi@topcareer.id
Tren

Awal Puasa Berbeda, Kenapa Lebaran Bisa Barengan?

Ilustrasi. (dok. Indosat Oreedo)

Topcareer.id – Semakin mendekati waktu hari raya Idul fitri, semakin banyak orang membahas apa yang Kementerian Agama sampaikan, yakni adanya kemungkinan Lebaran 2022 akan jatuh secara bersamaan pada Senin, 2 Mei 2022.

Menurut Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, kemungkinan itu bisa saja terjadi sebab secara hisab posisi hilal di Indonesia tanggal 1 Mei 2022 sudah memenuhi kriteria baru yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Melansir laman Kemenag, “Pada 29 Ramadhan 1443 H yang bertepatan dengan 1 Mei 2022 di Indonesia tinggi hilalnya antara 4 derajat 0,59 menit sampai 5 derajat 33,57 menit dengan sudut elongasi antara 4,89 derajat sampai 6,4 derajat.”

Imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Menurut MABIMS, ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya, yakni 2 derajat dengan sudut elongasi 3 derajat.

Kriteria sebelumnya sempat banyak mendapat masukan dan kritik dari berbagai pihak dan pakar.

Sebelumnya, Pimpinan Pusat (PP) melalui Maklumat Nomor 01/MLM/I.0/E/2022 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1443 H telah menetapkan 1 Syawal 1443 Hijriah yang jatuh pada 2 Mei 2022.

Ini berarti Muhammadiyah akan merayakan hari raya Idul Fitri pada Senin, 2 Mei 2022.

Penetapan tersebut ternyata sama dengan perkiraan Kemenag yang menyatakan bahwa secara hisab posisi hilal sudah memenuhi syarat MABIMS.

Jadi ada kemungkinan pemerintah akan menetapkan hari raya Lebaran pada 2 Mei 2022 yang mana akan bersamaan dengan Muhammadiyah.

Lantas kenapa penetapan awal puasa bisa berbeda tapi kemungkinan lebaran justru bisa jatuh di hari yang sama?

Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin angkat bicara menjelaskan pertanyaan ini.

Menurut Kamaruddin, perbedaan penetapan 1 Ramadhan 1443 Hijriyah terjadi karena posisi hilal saat itu masih di bawah kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS.

Saat penentuan awal Ramadan, posisi hilal masih di bawah kriteria MABIMS sehingga pemerintah memutuskan puasa jatuh pada hari berikutnya.

Nah, pada 1 Mei 2022 secara hisab, posisi hilal awal Syawal 1443 Hijriah di Indonesia sudah memasuki kriteria baru MABIMS.

Baca juga: Fix, Ini Jadwal Cuti Bersama Libur Lebaran 2022

Dijelaskan juga jumlah hari dalam kalender Hijriah bisa berjumlah 29 atau 30 hari per bulan.

Ambil contoh, Syakban yang datang sebelum bulan Ramadan bisa digenapkan menjadi 30 hari apabila kondisi hilal penentu awal Ramadan tidak terlihat.

Dengan begitu, pemerintah menetapkan awal puasa sehari lebih lambat dari Muhammadiyah. Sehingga pemerintah melaksanakan puasa selama 29 hari sementara Muhammadiyah menunaikan ibadah puasa selama 30 hari.

Yang perlu menjadi perhatian, penetapan Hari Raya Idul Fitri tetap masih menunggu hasil sidang isbat pada Minggu (1/5/2022).**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply