Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Jumat, September 30, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Menakut-nakuti Anak Dengan Filter Kamera di Media Sosial Itu Enggak Lucu! Ini Alasannya

images (6)

Topcareer.id – Sempat ada tren filter kamera di media sosial yang mungkin sampai sekarang masih banyak orang melakukannya yakni menakut-nakuti anak atau balita dengan mengubah wajah orang tua mereka berubah menjadi kuda.

Banyak sekali orang tua merekam reaksi anak-anak mereka untuk mengamati transformasi filter kamera yang terjadi secara real-time di layar ponsel.

Reaksi anak-anak terhdap filter kamera sering kali ekstrem, termasuk menangis ketakutan. Ini adalah bentuk hiburan yang aneh, ini lebih mengarah pada trauma anak.

Kamala London, Ph.D., seorang profesor psikologi di University of Toledo yang berspesialisasi dalam psikologi perkembangan forensik, mencatat bahwa pikiran anak kecil dan balita tidak siap untuk gambar semacam ini.

Ketakutan yang mereka alami untuk TikTok ini bisa memiliki efek berbeda pada pikiran mereka yang sedang berkembang.

Kapan balita dapat menyadari bahwa gambar digital tidaklah nyata?
Salah satu karakteristik yang membedakan pikiran manusia dari makhluk lain adalah kemampuan untuk belajar melalui simbol dan artifak simbolik.

Anak-anak manusia mengembangkan kemampuan ini dengan mudah.

Ada satu hal yang menarik: “Memahami gambar video membutuhkan pengembangan yang lebih lama, dan memahami sifat representasi video membutuhkan lebih banyak pembelajaran dan pengalaman,” jelas London.

Saat bayi beranjak dewasa, pemahaman mereka bahwa video berbeda dari kenyataan langsung berubah secara signifikan.

“Mereka lebih banyak tersenyum pada orang yang sebenarnya,” kata London.

“Pada saat yang sama, bayi sering menanggapi video seolah-olah itu nyata. Misalnya, pada usia sembilan bulan, bayi masih berusaha menjangkau layar untuk mengambil objek yang ditampilkan di video. Dan pada usia 15 bulan, anak-anak berhenti meraih objek di layar video.”

Seiring kemajuan teknologi, realisme gambar menjadi faktor yang rumit.

Satu hal yang membuat gambar dan augmentasi buatan di aplikasi media sosial begitu memikat adalah tampilannya seperti aslinya.

Sayangnya ini juga membuatnya semakin membingungkan bagi anak-anak kecil.

Jadi, bahkan setelah seorang anak dapat mulai memahami perbedaan antara gambar asli dan gambar palsu, mereka masih dapat menunjukkan respons ketakutan seperti orang dewasa yang menonton film horor.

Perubahan yang mengejutkan atau menakutkan dapat melibatkan batang otak secara instan, memicu respons melawan, lari, atau tidak bisa bergerak.

Beberapa orang dewasa memang banyak yang hobi menikmati adrenalin dengan mencari hal-hal yang menegangkan atau bahkan menakutkan.

Tetapi ini sama sekali tidak adil untuk memaksakan itu pada anak kecil hanya untuk keisengan belaka.

Efek jangka panjang menakuti anak kecil untuk bersenang-senang
Manusia cenderung lebih menyimpan pengalaman menakutkan daripada memor yang indah-indah.

“Ini kemungkinan adaptif secara evolusioner dan membantu manusia menghindari situasi berbahaya,” ujar London.

Dia menunjuk secara khusus pada eksperimen The Little Albert yang menunjukkan bukti empiris pengkondisian klasik pada manusia dari para peneliti di Johns Hopkins pada 1950-an.

Baca juga: Kamera Ultra Cepat Terbaru telah Lahir, 70 Triliun Frame Per Detik

“Psikolog melatih ‘Little Albert’ untuk takut pada tikus dengan memasangkan suara keras dengan tikus,” kata London.

“Pada awalnya Albert tidak menunjukkan rasa takut pada tikus, setelah tikus dipasangkan dengan suara keras yang menakutkan, Albert mulai menangis saat melihat tikus. Lima hari kemudian, Little Albert masih menunjukkan rasa takut yang kuat terhadap tikus tetapi juga menyamaratakan ketakutannya pada hal-hal berbulu lainnya seperti anjing yang dipelihara keluarganya.” London menjelaskan.

Memang, London menunjukkan bahwa menakut-nakuti anak kecil dengan filter media sosial tidak mungkin menyebabkan ketakutan jangka panjang.

London hanya prihatin, padahal anak-anak di usia kecilnya sedang belajar untuk mempercayai orangtuanya dan mengandalkannya untuk keselamatan mereka selama periode perkembangan yang penting ini.

“Menunjukkan filter kamera yang menakutkan kepada anak-anak balita dan membuat mereka ketakutan dengan video itu merupakan pelanggaran terhadap kepercayaan balita.” Tegas London.

Tidak ada cara untuk membenarkan perilaku orangtua yang hobinya menakut-nakuti bayi atau balita di masa pertumbuhannya.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan