Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Juni 30, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Banyak Lulusan D3 dan S1 Malah Nganggur, Ini Alasannya

Kemnaker berbagi langkah turunkan angka pengangguran tahun ini.Ilustrasi. (dok. Astrophesia)

Topcareer.id – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2022, dari 8,40 juta orang pengangguran di Indonesia, sangat disayangkan bahwa hampir 14 persen adalah penduduk lulusan jenjang diploma dan sarjana (S1). Kenapa hal ini bisa terjadi?

Alfeus Nehemia, Head of Human Capital dari PT Praweda Ciptakarsa Informatika menerangkan beberapa alasannya, dikutip dari laman resmi UNAIR.

Keterampilan Tak Sesuai Kebutuhan

Alfeus memaparkan, sebagai seorang human capital ia kerap kali dihadapkan pada posisi merasa kesusahan mencari orang yang layak dipekerjakan sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan. Banyak dari pendaftar menawarkan keterampilan yang tidak relevan atau tidak dibutuhkan oleh perusahaan saat ini.

“Kalau kalian bilang susah ya cari kerja, kami sebagai perusahaan juga bilang, susah ya cari karyawan. Akibat adanya mismatch antara keterampilan yang dibutuhkan dan yang tersedia,” kata alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNAIR tahun 2009 tersebut.

Ekspektasi Penghasilan dan Status Tinggi

Ketika lulus dari perguruan tinggi bergengsi, tak jarang seseorang memiliki ekspektasi tinggi mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi dengan mudah. Hal ini membuat beberapa lulusan dari perguruan tinggi bergengsi tersebut terlalu percaya diri dengan melabeli dirinya dengan fresh grade tinggi padahal belum tentu ia memiliki kompetensi yang layak.

Baca juga: Pemerintah Tegaskan Komitmen Dalam Pemenuhan Tenaga Kerja Kompeten

“Perusahaan nggak hanya melihat almamater sekolahmu saja, namun kita juga melihat kompetensinya seperti apa, layak tidak kita bayar tinggi,” jelas dia, dikutip dari laman resmi UNAIR, Rabu (22/6/2022).

Terbatasnya Penyedia Lapangan Kerja

Terbatasnya lapangan kerja bukan lagi hal baru yang menyebabkan terjadinya banyak pengangguran. Hal ini diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Hal tersebut menyebabkan jumlah pengangguran tak sebanding dengan lapangan kerja yang ada.

“Hampir 29,12 juta penduduk usia kerja terdampak pandemi. Mungkin sudah sedikit recover, namun perlu diingat lulusan baru yang menunggu mendapatkan pekerjaan selalu bertambah tiap tahunnya,” jelas dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, tantangan generasi muda pasca-pandemi untuk mencari kerja lebih berat. “Karena harus bersaing dengan ribuan orang untuk memperebutkan lapangan kerja yang semakin sedikit,” terangnya.

Tinggalkan Balasan