Find Us on Facebook

Instagram Gallery

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Juni 25, 2022
redaksi@topcareer.id
LifestyleTren

WHO: Hampir 1 Miliar Orang di Dunia Alami Gangguan Mental

Rasa cemas menghampiri kapan saja, di masa pandemi yang penuh ketidakpastian.Sumber foto: wrike.com

Topcareer.id – Menurut data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hampir satu miliar orang di seluruh dunia menderita beberapa bentuk gangguan mental. Ini tentu merupakan angka mengejutkan yang bahkan lebih mengkhawatirkan.

Lebih buruk lagi, pada tahun pertama pandemi COVID-19, tingkat kondisi umum seperti depresi dan kecemasan, naik lebih dari 25 persen, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dalam tinjauan kesehatan mental terbesar sejak pergantian abad, Organisasi Kesehatan Dunia telah mendesak lebih banyak negara untuk mengatasi kondisi yang memburuk.

“Kesehatan mental yang baik diterjemahkan menjadi kesehatan fisik yang baik dan laporan baru ini membuat kasus yang menarik untuk perubahan,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus ddikutip dari siaran pers di laman resmi PBB, Kamis (23/6/2022).

“Hubungan tak terpisahkan antara kesehatan mental dan kesehatan masyarakat, hak asasi manusia, dan pembangunan sosial ekonomi berarti bahwa mengubah kebijakan dan praktik dalam kesehatan mental dapat memberikan manfaat nyata dan substantif bagi individu, komunitas, dan negara di mana pun,” jelasnya.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Butuh Break Dari Media Sosial

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa investasi untuk kesehatan mental adalah investasi untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik untuk semua orang.

Bahkan sebelum COVID-19 melanda, hanya sebagian kecil orang yang membutuhkan bantuan yang memiliki akses ke perawatan kesehatan mental yang efektif, terjangkau, dan berkualitas, kata WHO, mengutip data global terbaru yang tersedia dari tahun 2019.

Misalnya, lebih dari 70 persen dari mereka yang menderita psikosis di seluruh dunia, tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, kata badan PBB itu.

Ia menambahkan, situasinya semakin dramatis untuk kasus-kasus depresi, menunjuk pada kesenjangan bantuan di semua negara – termasuk negara-negara berpenghasilan tinggi – di mana hanya sepertiga orang yang menderita depresi menerima perawatan kesehatan mental formal.

Tinggalkan Balasan