Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Februari 4, 2023
redaksi@topcareer.id
Profesional

Alami Bullying di Kantor? Lakukan Hal Ini

cropped-bullying-boss.jpg

Topcareer.id – Bullying telah menjadi terlalu umum di tempat kerja, dalam bentuk kekerasan nonverbal, verbal, psikologis, hingga fisik.

Menurut Workplace Bullying Institute, 19 persen orang dewasa di AS diintimidasi di tempat kerja, sementara 60,3 juta pekerja dipengaruhi oleh intimidasi di tempat kerja.

Dalam survei TopResume tentang intimidasi di tempat kerja, dari 1.229 responden, hanya empat persen yang mengatakan mereka tidak pernah merasa diintimidasi di tempat kerja.

Hal itu menunjukkan bahwa 96 persen responden pernah merasa diintimidasi oleh orang lain di tempat kerja.

Jika kamu berpikir intimidasi hanya datang dari mereka yang memiliki posisi berkuasa, seperti manajer atau bos, pikirkan lagi.

Dalam survei yang sama, 25 persen responden mengatakan mereka merasa diintimidasi oleh sesama rekan kerja.

Bagaimana menangani intimidasi di tempat kerja? Berikut ini tipsnya.

1) Teliti kebijakan perusahaan
Jika kamu diintimidasi di tempat kerja atau mengetahui seseorang yang ditindas, teliti kebijakan perusahaan untuk menentukan protokol yang tepat dalam melaporkan aktivitas tersebut.

Banyak perusahaan memiliki kebijakan tanpa toleransi untuk perilaku seperti itu.

Jika perusahaan tidak memiliki kebijakan tentang bullying, bicarakan dengan manajer atau departemen HRD tentang menerapkan kebijakan perusahaan untuk melindungi karyawan dari penindasan.

2) Bersiap
Jika kamu merasa diintimidasi di tempat kerja, ambil napas untuk menilai situasi.

Dari sudut pandang yang tenang dan membumi, kamu bisa menentukan cara terbaik untuk menghadapi situasi tersebut.

Ingatlah bahwa orang membuat kesalahan. Luangkan waktu sejenak untuk menilai situasi dan tentukan apakah “intimidasi” hanyalah insiden satu kali atau sesuatu yang akan berkembang menjadi pelecehan berkelanjutan.

3) Jaga kesehatan mental
Banyak orang takut untuk angkat bicara ketika mereka dibully.

Mereka mungkin khawatir tentang apa yang akan dipikirkan orang lain. Dan, jika si pembully adalah bosnya atau seseorang yang memiliki posisi berkuasa, maka mata pencahariannya bisa dipertaruhkan.

Intimidasi akibat bullying dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan kesehatan secara keseluruhan baik secara mental maupun fisik.

Jaga diri dengan mengumpulkan sumber daya untuk mendukungmu.

Seorang profesional atau konselor kesehatan mental bisa membantumu mengatasi stres akibat intimidasi dan memberikan solusi tentang cara menanganinya.

4) Bicara langsung ke atasan atau HRD
Jika kamu tidak nyaman berbicara dengan individu yang menindasmu secara langsung, kamu mungkin perlu mendiskusikannya dengan manajer atau HRD.

Saat mengatasi masalah ini, fokuslah pada dampak negatif dalam produktivitasmu, kesejahteraan, dan moral sambil tetap profesional dan tenang.

Baca juga: Pernah Alami Bullying di Zoom? Ini Tanda-tandanya

5) Jangan tersinggung
Meskipun ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, lakukan yang terbaik untuk tidak menganggap intimidasi secara pribadi.

Ingat, ketika seseorang menindasmu, itu hanya karena mereka iri tidak bisa lebih baik dari kamu.

Faktanya, target pelaku intimidasi seringkali adalah orang-orang berkinerja tinggi yang berhasil dengan baik di tempat kerja.

Berlatihlah untuk memiliki batasan emosional yang sehat yang membuatmu tidak bereaksi saat terjadi bullying.

6) Dokumentasikan
Selalu dokumentasikan semua yang berhubungan dengan interaksi kamu dengan si pembully.

Ini membantumu untuk mengingat informasi dengan lebih mudah saat dibutuhkan.

Simpan utas email, ambil tangkapan layar pesan teks, dan simpan catatan kasus saat rekan kerja membully kamu.

Catat tanggal, waktu, lokasi, dan nama orang yang menyaksikan rekan kerja kamu membully dirimu secara langsung.

Jika memungkinkan, komunikasikan melalui email saat berhadapan dengan si penindas untuk memiliki catatan tertulis tentang komunikasi tersebut.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan