Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Selasa, Agustus 9, 2022
redaksi@topcareer.id
Covid-19Tren

Peneliti UNAIR: Vaksin Merah Putih Bisa Tangkal Varian Baru Covid

vaksinasiIlustrasi vaksin

Topcareer.id – Berdasarkan dari banyak pengujian yang telah dilakukan, Vaksin Merah Putih yang kini telah masuk dalam tahap uji klinis fase III, diklaim memiliki kemampuan menangkap varian virus yang baru.

Hal itu seperti yang dikatakan oleh Ketua tim peneliti Vaksin Merah Putih UNAIR Prof Fedik Abdul Rantam. Ia mengatakan bahwa perkembangan Covid-19 dari varian Delta, Omicron, ataupun varian baru lainnya naik turun hingga saat ini.

Dengan kemampuan yang dimiliki Vaksin Merah Putih itu artinya, dapat menetralisir infeksi bahkan mutasi lainnya. Namun, vaksin tidak bisa diukur dengan titer antibodi, melainkan pada kemampuan netralisasi.

“Titer antibodi relatif tergantung individu, tetapi yang paling penting merupakan netralisasi. Memory cell tentu sebanding dengan titer antibodi. Ketika antibodi turun, berarti memorynya rendah dan sebaliknya, memory itu bisa diperbanyak saat melakukan booster atau suntikan kedua,” kata Fedik, dikutip dari siaran pers, Selasa (28/6/2022).

Bekerja sama dengan berbagai pihak, Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (UNAIR) telah masuk dalam tahap uji klinis fase III.

Baca juga: Epidemiolog UGM Sebutkan Alasan Kasus Covid Melonjak Saat Ini

Fedik mengatakan bahwa agenda Uji Klinis Fase-3 Vaksin Merah Putih termasuk progres program dari pemerintah Indonesia yang melibatkan beberapa institusi. UNAIR sendiri memiliki tiga varian platform, namun yang diandalkan sebagai vaksin anak bangsa merupakan platform inactivated.

“Melalui sampel 59, kita dapat mengisolasi virus Covid pada saat itu terdapat 27 isolat, yang kemudian divalidasi menjadi 3 isolat kemungkinan bisa dikembangkan,” ujarnya.

“Dari ketiga isolat, kita lakukan uji berbagai macam, mulai dari stabilitas gen, stabilitas imun genitasnya, dan stabilitas pertumbuhan. Tinggal satu yang kita peroleh dan dapat dikembangkan menjadi vaksin,” jelas Prof Fedik.

UNAIR, lanjutnya, pertama kali mendapatkan isolated virus pada 2020. Dari penemuan itu, penelitian terus berjalan sampai pada uji pre-klinis. Prof Fedik berterima kasih atas bimbingan dari tim BPOM dalam pembuatan vaksin yang baik dan benar.

“Kami sudah bertekad untuk mengembangkan vaksin dan merealisasikan menjadi satu, dan ini berkat partner lainnya. Konsep dari pengembangan vaksin ini triple helix menjadi pentahelix, karena melibatkan media massa dan sosial,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan