Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Oktober 8, 2022
redaksi@topcareer.id
Tren

Indonesia Miliki Kesiapan Serangan Siber yang Rendah

Ilustrasi cybersecurity (keamanan siber).

Topcareer.id – Berdasar laporan temuan Marsh, perusahaan broker asuransi dan pengelolaan risiko terkemuka di dunia dan Microsoft, perusahaan-perusahaan di Asia belum sepenuhnya siap seperti yang mereka bayangkan untuk menghadapi serangan siber.

Hal itu karena karena kurangnya pengendalian risiko keamanan siber – yang merupakan sebuah syarat mutlak bagi program-program asuransi.

Menurut laporan The State of Cyber Resilience, di Asia, sebanyak 7 dari 10 perusahaan merasa yakin akan keamanan dan ketahanan siber mereka di tengah derasnya arus transformasi digital, meningkatnya jumlah serangan siber, serta maraknya beragam bentuk ancaman di dunia maya.

Demikian halnya dengan Indonesia, di mana perusahaan-perusahaan di negara ini memiliki skor kesiapan serangan siber yang rendah dan berada di peringkat 83 dari 160 negara di dunia.

“Ini mengkhawatirkan mengetahui bahwa 1 dari 3 organisasi di Asia tidak memiliki perangkat pendeteksi endpoint yang mana akan membahayakan potensi insurabilitas organisasi tersebut,” kata Head of Cyber Advisory Asia Pacific, Marsh Advisory, Faizal Janif dalam siaran pers, Senin (8/8/2022).

Baca juga: Survei Telkomsel: Ini E-Commerce Yang Paling Dipercaya Oleh UMKM

Terlebih lagi, banyak organisasi yang masih berusaha untuk memahami risiko-risiko yang mungkin dibawa oleh vendor dan rantai pasokan digital sebagai bagian dari strategi kemanan siber mereka.

Dalam skala global, hanya 36% responden yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan audit dan verifikasi rencana teknis dan operasional yang dilakukan oleh para vendor dan pemasok digital mereka secara lengkap.

Perusahaan-perusahaan di Asia menampilkan tingkat kesadaran akan risiko yang tinggi terkait vendor dan pemasok digital mereka, di mana 1 dari 2 responden (56%) melakukan proses audit secara menyeluruh dan lengkap terhadap vendor-vendor atau para pemasok digitalnya.

Mengenai apa yang menyebabkan perusahaan lebih rentan terhadap risiko serangan siber tersebut, lebih dari setengah (57%) responden di Asia menyebut ‘kebijakan bekerja jarak jauh dan dari rumah’ menjadi penyebab terbesar, diikuti dengan ‘perangkat atau aplikasi personal yang digunakan oleh karyawan’ (52%).

Lalu penyebab lainnya, ‘penggunaan infrastruktur dan platform cloud’ (46%), serta ‘penggunaan produk digital, aplikasi, dan platform dagang elektronik yang berhubungan langsung dengan pelanggan oleh perusahaan’ (46%).

Tinggalkan Balasan