Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Sabtu, Januari 28, 2023
redaksi@topcareer.id
Tren

Twitter Pulihkan Fitur Pencegahan Bunuh Diri Setelah Sempat Menghapusnya

Image by Mohamed Hassan from PixabayImage by Mohamed Hassan from Pixabay

Topcareer.id – Twitter Inc telah memulihkan fitur yang mempromosikan hotline pencegahan bunuh diri dan sumber daya keamanan lainnya kepada pengguna yang mencari konten tertentu, setelah mendapat tekanan dari beberapa pengguna dan grup keamanan konsumen atas penghapusan yang dilakukan pihaknya.

Reuters melaporkan pada hari Jumat (23/12) bahwa fitur tersebut dihapus, mengutip laporan dari dua orang dalam yang mengetahui masalah tersebut dan mengatakan bahwa penghapusan tersebut diperintahkan oleh pemilik baru platform media sosial Elon Musk.

Setelah berita tersebut dipublikasikan, kepala kepercayaan dan keamanan Twitter Ella Irwin mengonfirmasi penghapusan tersebut dan menyebutnya hanya sementara.

Twitter sedang “memperbaiki relevansi, mengoptimalkan ukuran permintaan pesan dan memperbaiki permintaan yang sudah usang,” kata Irwin dalam email ke Reuters. “Kami tahu fitur ini berguna dan niat kami bukan untuk menghentikannya secara permanen.” Jelasnya.

Sekitar 15 jam setelah laporan awal, Musk, yang awalnya tidak menanggapi permintaan komentar, mentweet “Salah, fitur itu masih ada.”

Fitur yang dikenal dengan #ThereIsHelp ini menempatkan banner di bagian atas hasil pencarian untuk topik tertentu.

Baca juga: Pengguna Twitter Blue Sekarang Bisa Upload Video 60 Menit

Teracantum kontak untuk organisasi pendukung di banyak negara terkait dengan kesehatan mental, HIV, vaksin, eksploitasi seksual anak, COVID-19, kekerasan berbasis gender, bencana alam, dan kebebasan berekspresi.

Twitter melarang pengguna untuk mendorong tindakan menyakiti diri sendiri, meskipun kelompok keamanan konsumen telah mengkritik perusahaan karena mengizinkan postingan yang menurut mereka melanggar kebijakan.

Hilangnya #ThereIsHelp telah menyebabkan beberapa kelompok keamanan konsumen dan pengguna Twitter mengungkapkan keprihatinan tentang kesejahteraan pengguna platform yang rentan.**(Feb)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan