Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, July 13, 2024
redaksi@topcareer.id
Tren

Lebih dari 700 Juta Orang di Dunia Nggak Tahu Kapan Bisa Makan Lagi

Ilustrasi food crisis - 700 juta lebih orang tidak tahu kapan mereka akan makan lagi. (Pexels)Ilustrasi food crisis - 700 juta lebih orang tidak tahu kapan mereka akan makan lagi. (Pexels)

Topcareer.id – Badan Pangan PBB, World Food Programme, menyebut bahwa krisis kelaparan global menyebabkan lebih dari 700 juta orang tidak tahu kapan atau apakah mereka akan makan lagi, dan permintaan akan makanan terus meningkat, sementara dana kemanusiaan makin berkurang.

Direktur Eksekutif World Food Programme (WFP), Cindy McCain mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa karena kurangnya dana, badan tersebut terpaksa memotong jatah makanan untuk jutaan orang, dan pengurangan lebih lanjut akan dilakukan.

“Kita sekarang hidup dengan serangkaian krisis yang terjadi secara bersamaan dan berjangka panjang yang akan terus meningkatkan kebutuhan kemanusiaan global,” kata McCain dikutip dari The Associated Press.

“Ini adalah kenyataan baru yang dihadapi komunitas kemanusiaan – keadaan normal baru kita – dan kita akan menghadapi dampak buruknya di tahun-tahun mendatang.”

Ketua WFP mengatakan badan tersebut memperkirakan hampir 47 juta orang di lebih dari 50 negara hanya selangkah lagi menuju kelaparan – dan 45 juta anak di bawah usia lima tahun kini diperkirakan menderita malnutrisi akut.

Baca juga: PBB Menyebut 2022 Termasuk Delapan Tahun Terpanas Dalam Catatan

Menurut perkiraan WFP dari 79 negara tempat lembaga yang berbasis di Roma ini beroperasi, hingga 783 juta orang – satu dari 10 populasi dunia – masih tidur dalam keadaan lapar setiap malam, mereka tidak tahu kapan bisa makan lagi atau apakah mereka bisa makan.

Lebih dari 345 juta orang menghadapi kerawanan pangan tingkat tinggi tahun ini, peningkatan hampir 200 juta orang dari awal tahun 2021 sebelum pandemi COVID-19, masih menurut WFP.

Akar dari melonjaknya angka tersebut, kata WFP, adalah kombinasi mematikan dari konflik, guncangan ekonomi, iklim ekstrem, dan melonjaknya harga pupuk.

Dampak ekonomi dari pandemi ini dan perang di Ukraina telah mendorong harga pangan tidak terjangkau oleh jutaan orang di seluruh dunia. Pada saat yang sama, tingginya harga pupuk telah menyebabkan turunnya produksi jagung, beras, kedelai, dan gandum, kata badan tersebut.

“Tantangan kolektif kita adalah meningkatkan kemitraan multi-sektoral yang ambisius yang akan memungkinkan kita mengatasi kelaparan dan kemiskinan secara efektif, dan mengurangi kebutuhan kemanusiaan dalam jangka panjang,” desak McCain kepada para pemimpin bisnis pada pertemuan dewan yang berfokus pada isu kemanusiaan.

Leave a Reply