TopCareerID

Ancaman Kesenjangan Pensiun di RI, Banyak Lansia Terpaksa Masih Kerja

Ilustrasi pensiun. (Gambar dibuat dengan AI ChatGPT)

TopCareer.id – Indonesia masih menghadapi kesenjangan pensiun. Banyak orang yang terpaksa masih harus bekerja karena tekanan kebutuhan, bukan pilihan pribadi.

Menurut data ECSAP, sekitar 30,9 juta penduduk memasuki usia 60 ke atas pada 2023 (11,1 persen dari total populasi) dan diproyeksikan meningkat ke angka 64,9 juta pada 2050 (20,5 persen dari populasi).

Perubahan ini, ditambah dengan penundaan perencanaan pensiun, serta meningkatkan ketergantungan pada AI yang digunakan secara mandiri, berisiko memperlebar kesenjangan kesiapan pensiun.

Menurut survei Sun Life “Membayangkan Kembali Pensiun: Kesenjangan Pensiun di Asia/Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide“, mayoritas responden (77 persen) memperkirakan akan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun.

Bagi sebagian orang hal ini mencerminkan keinginan akan fleksibilitas dan kesejahteraan.

Responden menyebut rasa memiliki tujuan dan pemenuhan diri (48 persen), menjaga hubungan sosial (48 persen), dan stimulasi mental (36 persen) sebagai alasan untuk tetap bekerja.

Baca Juga: Micro-Retirement, Tren Pensiun Singkat ala Gen Z dan Milenial

Namun bagi sebagian orang, ini menunjukkan tekanan finansial dengan 71 persen mengatakan perlu penghasilan tambahan demi biaya hidup sehari-hari dan keamanan finansial jangka panjang.

Albertus Wiroyo, Presiden Direktur Sun Life Indonesia dalam siaran persnya, dikutip Senin (16/2/2026) mengatakan, laporan ini mengungkapkan adanya dua realitas yang berbeda.

“Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi,” ujarnya.

Karena itu, merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani.

Dua Realitas Pensiun

Riset Sun Life membagi dua realitas ini menjadi “Gold Star Planners” dan “Stalled Starters.

Gold Star Planners adalah mereka yang siap secara finansial dan bisa memilih kapan serta bagaimana mereka mengurangi pekerjaan. Sementara, Stalled Starters adalah mereka yang menunda pensiun karena tidak bisa berhenti bekerja.

Bagi Gold Star Planners, melanjutkan bekerja merupakan aspirasi dan pilihan yang ditentukan oleh tujuan hidup, identitas, dan kesejahteraan (60 persen), berbeda dengan Stalled Starters (50 persen).

Hampir setengah Gold Star Planners (48 persen) mengatakan mereka menantikan masa pensiun, yang ditopang oleh rasa aman secara finansial. Sementara, Stalled Starters lebih mungkin merasa tidak pasti atau pesimistis (20 persen).

Bagi Stalled Starters yang merencanakan pensiun lebih lambat dari perkiraan, atau sudah melakukannya, kebutuhan finansial merupakan salah satu alasan utama.

Baca Juga: 10 Negara Terbaik buat Pensiun di Luar negeri, Portugal Teratas

Sebanyak 43 persen Stalled Starters mengatakan mereka menunda pensiun untuk menutup biaya pendidikan atau kebutuhan hidup anak. Namun, di kalangan Gold Star Planners, penundaan pensiun lebih bersifat pilihan.

Sebanyak 83 persen menyebut menikmati aspek sosial dari pekerjaan, dan banyak yang menunjuk keinginan untuk tetap aktif secara fisik atau mental sebagai faktor pendorong (83 persen).

“Semakin banyak orang Indonesia yang umurnya lebih panjang. Namun, terlalu banyak yang masih tidak yakin apakah mereka bisa pensiun dengan nyaman,” kata Albertus.

Ia pun menegaskan bahwa peran institusi keuangan pun semakin penting, yaitu dengan menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan.

“Serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan,” tambah Albertus.

Penggunaan AI Generatif untuk Ambil Keputusan Finansial

Laporan ini juga menyoroti bagaimana AI generatif dimanfaatkan untuk mengambil keputusan finansial.

Temuan menemukan, penggunaan alat seperti ChatGPT dan Gemini meningkat lebih dari dua kali lipat sejak survei sebelumnya, dari 13 persen menjadi 30 persen.

Di saat yang sama, minat pada nasihat profesional menurun dibanding tahun lalu, dengan lebih sedikit individu berkonsultasi dengan bank (31 persen tahun ini vs 40 persen pada 2024) atau penasihat keuangan independen (31 persen vs 44 persen).

Perubahan ini menunjukkan minat masyarakat terhadap kenyamanan digital dan rasa ingin tahu, tapi juga menegaskan adanya kesenjangan literasi finansial di ranah perencanaan pensiun.

Albertus menegaskan, AI bisa menjadi titik awal pencarian informasi dan sangat membantu, tetapi seringkali tidak memiliki konteks dan tingkat personalisasi saran yang dibutuhkan untuk mewujudkan keamanan finansial jangka panjang.

“Saat teknologi mengubah cara orang merencanakan pensiun, pelibatan nasihat dari ahli keuangan tetap penting agar keputusan yang diambil dapat ditopang oleh informasi yang akurat, seimbang, dan selaras dengan tujuan masing-masing individu,” tegasnya.

Keamanan Finansial Berdampak pada Optimisme Pensiun

Lebih lanjut, survei mencatat bahwa di antara mereka yang menantikan masa pensiun, 60 persen menyebut keamanan finansial menjadi alasannya tetap optimistis.

Alasan lain yaitu stabilitas (46 persen) dan merasa lebih mampu mengendalikan perubahan atau transisi hidup (23 persen).

Sebaliknya, mereka yang gelisah karena akan pensiun mengungkapkan kekhawatiran terbesar adalah tidak bisa memberikan dukungan finansial kepada keluarga (44 persen), disusul ketidakamanan finansial (37 persen).

Seringnya menunda pensiun juga membuat masyarakat kurang punya waktu untuk merencanakan pensiun.

Baca Juga: Ini Kekurangan Dari Keputusan Pensiun Dini

24 persen responden tidak membuat rencana apa pun sebelum pensiun, sementara 34 persen baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu.

Hanya 38 persen yang merasa sangat percaya diri terhadap rencana pensiunnya.

Selain itu, banyak kaum pekerja yang harus jadi sandwich generation, di mana mereka harus menopang finansial orang tua sekaligus anaknya.

Baca Juga: Mau Sehat selama Pensiun? Banyaklah Bergerak!

Merawat keluarga yang lebih tua dan lebih muda membuat sebagian orang menurunkan ekspektasi gaya hidup (40 persen) atau menunda pensiun (23 persen).

Survei juga menemukan makin banyak orang di Indonesia menginginkan kendali atas kapan mereka meninggalkan dunia kerja.

Hingga 77 persen responden percaya pensiun seharusnya menjadi pilihan pribadi, bukan batas usia yang wajib dipatuhi. Sebanyak 81 persen mendukung ide untuk bekerja melampaui usia pensiun di Indonesia.

Pengaruh Kesehatan

Kesehatan juga jadi sorotan. Di antara mereka yang memandang pensiun dengan optimistis dalam beberapa tahun terakhir, alasan yang paling sering disebut adalah kesehatan fisik yang lebih baik dari perkiraan (58 persen) atau kesehatan mental (52 persen).

Di sisi lain, kesehatan yang menurun juga berdampak terhadap perencanaan pensiun. Bagi mereka yang menyatakan akan pensiun lebih awal, kesehatan yang buruk kerap disebut sebagai alasan utama (22 persen).

“Kesehatan adalah bentuk kekayaan yang nyata di masa pensiun. Kesehatan memengaruhi kapan orang pensiun dan bagaimana kualitas hidup mereka di masa itu,” kata Albertus.

“Perencanaan pensiun yang kuat dan komprehensif akan membantu mewujudkan keamanan finansial dan kesejahteraan jangka panjang,” pungkasnya.

Exit mobile version