UMKM Asia Tenggara Masih Diintai Ransomware
TopCareer.id – Ransomware masih jadi ancaman Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Asia Tenggara.
Menurut laporan Kaspersky, 3,51 persen UMKM di Asia Tenggara jadi sasaran ransomware pada kuartal pertama (Q1) tahun 2026. Angkanya meningkat dari 2,92 persen pada Q1 tahun 2025.
Di Singapura khususnya, proporsi UMKM yang menjadi sasaran mencapai 0,69 persen, meningkat dari 0,57 persen yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara di India dan Indonesia, peningkatannya juga relatif signifikan masing-masing dari 3,18 persen menjadi 4,07 persen, serta 2,83 persen menjadi 4,01 persen.
Fedor Sinitsyn, pakar keamanan di Kaspersky, dikutip dari siaran pers, Selasa (21/7/2026) memperingatkan, pelaku ancaman siber terus mengembangkan taktik untuk melewati strategi pencegahan yang sudah ada.
Baca Juga: 5 Tips Kelola Waktu buat Ibu Pelaku UMKM
“Para pelaku ancaman terus mengembangkan taktik mereka untuk melampaui langkah-langkah keamanan yang ada, dan pemilik UMKM tidak boleh meremehkan kompleksitas dan risiko ancaman ransomware,” ujarnya.
Ia mengatakan, menerapkan skema pencadangan saja jauh dari cukup untuk menjaga keamanan bisnis. Menurut Sinitsyn, sebagian besar pelaku ransomware modern menggunakan pendekatan “pemerasan ganda.”
Pemerasan ganda berarti penyerang tidak hanya mengenkripsi file korban, tetapi juga mengekstrak data rahasia dan mengancam akan membocorkannya jika tidak dibayar.
“Oleh karena itu, strategi perlindungan siber berlapis diperlukan untuk memberikan perlindungan yang memadai dari serangan,” kata Sinitsyn.
Baca Juga: Serangan Siber Berbasis AI Masih Ancam UMKM Indonesia
Adrian Hia, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky mengungkapkan, taktik yang digunakan kelompok ransomware menunjukkan peningkatan risiko yang dihadapi para pelaku UMKM di Asia Tenggara.
Menurut Adrian, teknik serangan ransomware tidak hanya semakin canggih. Para penyerang juga menargetkan perusahaan yang kekurangan sumber daya keamanan siber atau kurang menerapkan pembaruan sistem secara menyeluruh.
“Penyerang juga melihat UMKM sebagai pintu masuk ke rantai pasokan yang lebih besar tempat mereka berada, di mana hubungan yang terpercaya kemudian dieksploitasi untuk akses berbahaya mereka,” kata Adrian.
Karena itu, UMKM perlu berinvestasi pada keamanan siber secara berkelanjutan, sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.
Tips lindungi dari dari ransomware bagi UMKM
- Selalu perbarui perangkat lunak di semua perangkat yang digunakan untuk mencegah penyerang mengeksploitasi kerentanan dan menyusup ke jaringan Anda.
- Fokuskan strategi pertahanan pada pendeteksian pergerakan lateral dan eksfiltrasi data ke internet. Perhatikan secara khusus lalu lintas keluar untuk mendeteksi koneksi penjahat siber ke jaringan Anda. Siapkan cadangan offline yang tidak dapat diganggu oleh penyusup. Pastikan Anda dapat mengaksesnya dengan cepat saat dibutuhkan atau dalam keadaan darurat.
- Instal solusi anti-APT dan EDR yang memungkinkan kemampuan untuk penemuan dan deteksi ancaman tingkat lanjut, investigasi, dan remediasi insiden tepat waktu.
- Kembangkan rencana respons insiden. Pastikan rencana tersebut mencakup serangan rantai pasokan dan mencakup langkah-langkah untuk mengidentifikasi dan menahan pelanggaran dengan cepat, misalnya dengan memutuskan sambungan pemasok dari sistem perusahaan.


