TopCareer.id – Bekerja dengan lebih rajin dan antusias ternyata rentan mendapatkan tugas tambahan dari bos. Hal itu seperti diungkap dalam sebuah laporan terbaru.
Studi yang dilakukan Sangah Bae, profesor manajemen dan pengembangan organisasi di Northeastern University menyebut, atasan sering memberikan lebih banyak pekerjaan ke karyawan yang mereka anggap “termotivasi secara intrinsik” meski hal itu bisa merugikan karyawan tersebut.
Studi yang dimuat di jurnal Organization Science ini melibatkan lebih dari 4.300 peserta dari berbagai industri.
Mereka menyoroti apa yang disebut Bae sebagai “keyakinan naif” di kalangan manajer, yaitu jika karyawan menikmati pekerjaannya, mereka malah akan senang menerima tugas tambahan.
Bae mengatakan, ketertarikannya pada topik ini dimulai satu dekade lalu, saat dia masih menjadi analis junior, di mana manajernya memberinya pekerjaan tambahan saat ia sedang bersiap pulang kantor tepat waktu untuk acara sosial.
“Dia menyerahkan laporan ini kepada saya yang harus selesai sebelum saya pergi, dan jelas tidak mungkin selesai dalam setengah jam,” kata Bae, mengutip Newsweek, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, kala itu dia bangga dengan komitmennya terhadap pekerjaan. Namun, dirinya curiga dedikasi itulah yang membuat atasan memberi pekerjaan ekstra di luar tugasnya.
Baca Juga: Bos AI Lebih Adil Dibanding Manusia?
Dalam salah satu eksperimen yang dilakukannya, manajer diminta menilai dua karyawan berdasarkan tingkat kesenangan mereka pada pekerjaan. Ia lalu diminta memilih siapa yang akan diberi tugas tambahan seperti perencanaan acara dan tugas administratif.
55 persen manajer pun memberikan pekerjaan ekstra kepada karyawan yang mereka anggap lebih termotivasi secara intrinsik, tanpa memperhatikan usia, jenis kelamin, pengalaman, atau kinerja.
Eksperimen lain melibatkan peserta dalam kelompok berisi tiga orang, dengan satu sebagai atasan dan dua lainnya sebagai karyawan, di mana mereka harus bersaing untuk mendapatkan bonus uang tunai dalam jumlah kecil.
Selama tugas, manajer harus menugaskan pekerjaan tambahan kepada salah satu karyawan, yang dengan sadar tahu hal itu akan mengurangi peluang pekerjanya memenangkan bonus.
Sekitar 74 persen manajer lagi-lagi memilih karyawan yang lebih termotivasi untuk pekerjaan tambahan.
“Karena manajer memilih memberikan tugas ini kepada karyawan yang memiliki motivasi intrinsik tinggi, banyak dari karyawan ini justru kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bonus,” kata Bae.
Dia mencatat, hanya sekitar 30 persen karyawan yang memiliki motivasi intrinsik yang akhirnya menerima bonus.
Baca Juga: Coba Deh Lakuin Hal Ini Biar Kamu Lebih Akrab dengan Si Bos
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “motive oversimplification“, yaitu kesalahan logika yang terlalu menyederhanakan sumber motivasi karyawan.
Banyak atasan menganggap kesenangan dalam tugas pokok berarti karyawan juga otomatis menikmati tugas tambahan. Dari situ antusiasme juga dianggap akan melindungi dari kelelahan. Namun, bukti menunjukkan sebaliknya.
Sementara manajer memperkirakan tugas tambahan hanya akan mengurangi kepuasan kerja sebesar 0,2 poin, karyawan yang termotivasi intrinsik melaporkan penurunan hingga satu poin.
Bae menegaskan, sebagian besar manajer tidak memiliki niat buruk, namun sering membuat penilaian cepat di bawah tekanan, lalu menugaskan lebih banyak pekerjaan kepada karyawan yang mereka percayai bisa menyelesaikannya.
“Karyawan yang menjadi ‘jalan pintas’ Anda, yang selalu tampak terlibat dan menyukai pekerjaannya, mungkin sebenarnya sedang mengalami kelelahan secara diam-diam,” kata Bae.
Untuk mengatasinya, studi ini menyarankan beberapa saran, salah satunya untuk mengetahui siapa saja yang menerima tugas tambahan, sehingga mereka tidak terlalu terbebani.
Selain itu, perusahaan dapat memanfaatkan dashboard online dan sistem manajemen tugas untuk memantau kapan seorang karyawan sudah menerima terlalu banyak pekerjaan.






