TopCareer.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di kisaran angka 17.600 per Jumat (15/5/2026), dikhawatirkan berdampak pada harga kebutuhan pokok.
Fatkur Huda, pakar dari Universitas Muhammadiyah Surabaya mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah memang tidak selalu langsung dirasakan masyarakat, karena transaksi sehari-hari tetap menggunakan rupiah dan bukan dolar AS.
Namun, anggapan bahwa masyarakat pedesaan tidak akan terdampak pelemahan nilai tukar rupiah adalah keliru, mengingat mereka tetap tidak bisa lepas dari efeknya.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Harga Bahan Pokok hingga Transportasi Dibayangi Kenaikan
“Nilai tukar rupiah yang menurun tetap memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok karena banyak sektor ekonomi Indonesia masih bergantung pada barang impor dan harga global,” kata Fatkur, mengutip laman resmi Umsura, Senin (18/5/2026).
Dampak paling terasa yang kerap dirasakan masyarakat seperti petani, nelayan, pelaku UMKM, dan pekerja informal termasuk naiknya harga pupuk, pakan ternak, Bahan Bakar Minyak (BBN), obat-obatan, hingga transportasi.
Kenaikan harga-harga itu pun bakal meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari berpotensi ikut naik, sementara pendapatan masyarakat desa belum tentu meningkat.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya beli masyarakat dan memperbesar tekanan ekonomi masyarakat kecil,” kata Fatkur.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, Pakar Sarankan UMKM Pakai Kemasan Alternatif
Karena itu, ia menilai pelemahan rupiah tidak bisa dipandang sekadar isu pasar keuangan atau persoalan dolar semata.
Meski warga desa tidak bertransaksi memakai dolar AS, namun dampak ekonominya akan tetap menjalar hingga ke tingkat bawah melalui inflasi dan kenaikan harga barang.
“Maka, stabilitas rupiah tetap penting untuk menjaga kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan pelaku ekonomi kecil di pedesaan,” pungkas Fatkur.






