TopCareer.id – Penipuan online membuat Asia Tenggara merugi hingga 23,6 miliar dalam satu tahun terakhir.
Sementara di Indonesia, sepanjang 2025 tercatat lebih dari 411.000 laporan kasus penipuan online dengan estimasi kerugian finansial mencapai sekitar USD 550 juta atau setara Rp 9 triliun, menurut data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bentuk penipuan yang paling banyak dilaporkan meliputi phishing, rekayasa sosial, impersonation, penipuan investasi online, hingga penipuan pembayaran berbasis QR.
Modus-modus ini semakin berkembang seiring pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), platform pembayaran digital, serta taktik lintas platform yang semakin kompleks.
“Penipuan saat ini bukan lagi insiden yang terisolasi, melainkan tantangan bersama yang terus berkembang dan memengaruhi masyarakat lintas negara, sektor, dan komunitas” ujar Dr. Piti Srisangnam, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation dalam siaran pers, dikutip Senin (18/5/2026).
Untuk itu, ASEAN Foundation dengan pendanaan USD 5 juta dari Google.org meluncurkan Scam Ready ASEAN.
Baca Juga: Waspada Penipuan Berkedok Piala Dunia 2026, Ini Modus-Modusnya
Inisiatif regional ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan digital dan meningkatkan upaya pencegahan penipuan online di seluruh Asia Tenggara. Program ini ditargetkan menjangkau 3 juta masyarakat di 11 negara ASEAN.
“Di seluruh Asia Tenggara, kami melihat bagaimana penipuan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kepercayaan terhadap ruang digital kita secara lebih luas,” kata Srisangnam.
Ia mengatakan Scam Ready ASEAN ingin mengubah pendekatan masyarakat dari bereaksi terhadap penipuan, menjadi mencegah dan lebih siap menghadapinya.
“Dengan bekerja sama erat dengan masyarakat, pembuat kebijakan, dan pelaku industri, kami berharap dapat membangun lingkungan digital yang lebih aman di mana masyarakat merasa lebih percaya diri dan terlindungi seiring ASEAN melanjutkan perjalanan digitalnya,” kata Srisangnam.
Scam Ready ASEAN mengadopsi model Train-the-Trainer berskala besar. Pendekatan ini diklaim terbukti efektif menjangkau komunitas yang selama ini luput dari kampanye literasi digital konvensional.
Program ini membekali 2.000 Master Trainer lewat 20 organisasi lokal mitra di seluruh kawasan.
Sekitar 550 ribu penerima manfaat akan mendapatkan modul terstruktur dan alat interaktif yang dirancang membangun tidak hanya pengetahuan, tapi juga kepercayaan diri digital dan kemampuan berpikir kritis dalam mengenali penipuan daring yang semakin kompleks.
Program ini diperkuat melalui enam dialog kebijakan nasional dan tiga dialog regional, memastikan ketahanan komunitas berjalan seiring penguatan regulasi dan koordinasi lintas sektor di tingkat pemerintah.
Sapna Chadha, Vice President, Asia Tenggara menegaskan, kesuksesan ekonomi digital Asia Tenggara harus dibangun di atas fondasi kepercayaan.
Baca Juga: Awas Ketipu Kurir Palsu Saat Belanja Online, Ini Cara Menghadapinya
Karena itu, mereka menegaskan keamanan produk dari platform harus ditingkatkan, supaya tetap selangkah lebih maju dari para pelaku kejahatan yang terus mengembangkan taktiknya.
Setiap warga negara juga harus diberdayakan dengan pengetahuan untuk menjaga keamanan diri mereka secara daring.
“Lebih dari sekadar kesadaran, ini juga tentang berinvestasi dalam pendekatan ekosistem menyeluruh di mana pemerintah, industri, dan masyarakat sipil bekerja sama untuk melindungi kawasan,” kata Chadha.
Di tingkat regional, ASEAN juga terus memperkuat upaya penanggulangan penipuan online, termasuk melalui pembentukan ASEAN Anti-Scam Working Group pada Pertemuan Menteri Digital ASEAN ke-4 tahun 2024 untuk mendorong kolaborasi antar pusat anti-penipuan nasional.
Scam Ready ASEAN pun menjadi inisiatif multi-tahun yang menerjemahkan komitmen kebijakan ASEAN ke dalam aksi nyata lewat pendekatan whole-of-society, dengan melibatkan pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan komunitas untuk memperkuat ketahanan regional terhadap penipuan online.






