Tren

Pakar: WFH Satu Hari Sepekan Langkah Rasional, Tapi Jangka Pendek

Sumber foto: freepik.comIlustrasi WFH. Sumber foto: freepik.com

TopCareer.id – Kebijakan Work From Home (WFH) satu hari sepekan dinilai sebagai langkah rasional dan strategis dalam merespon potensi krisis energi global.

Meski begitu, Fatkur Huda, Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengatakan, kebijakan WFH satu hari sepekan merupakan strategi jangka pendek.

Fatkur mengakui bahwa konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memberi tekanan signifikan terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Kondisi ini semakin diperparah dengan terganggunya jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz yang selama ini jadi jalur penting perdagangan minyak dan gas global.

Perang ini pun berdampak langsung pada pasokan energi dunia, serta berpotensi menekan negara-negara yang bergantung pada impor negeri, termasuk Indonesia.

“Maka, kebijakan WFH perlu dipahami bukan sekadar kebijakan administratif ketenagakerjaan, tetapi sebagai bagian dari strategi pengelolaan konsumsi energi dalam jangka pendek (short-term demand management),” kata Fatkur.

Baca Juga: Anggota DPR Wanti-Wanti Dampak WFH 1 Hari Seminggu untuk PKL dan Ojol

Menurut Fatkur, dengan berkurangnya mobilitas, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), juga dapat ditekan sehingga berptensi membantu mengendalikan tekanan terhadap anggaran, terutama yang terkait subsidi energi.

Mengutip laman resmi Umsura, Senin (30/3/2026), Fatkur mengungkapkan, fenomena serupa juga mulai terlihat di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia.

Beberapa negara menerapkan langkah efisiensi energi seperti pengurangan hari kerja, pembatasan penggunaan energi di perkantoran, hingga optimalisasi kerja jarak jauh.

Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian konsumsi energi melalui pengurangan mobilitas menjadi bagian dari respons global terhadap krisis energi.

“Kebijakan WFH merupakan langkah penting dalam mengantisipasi dampak krisis energi global, khususnya dalam upaya mengendalikan konsumsi energi dan menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka pendek,” imbuhnya.

Baca Juga: WFH 1 Hari Sepekan Bisa Jadi Langkah Darurat, Tapi Cuma buat Sementara

Namun, Fatkur menegaskan penerapan WFH harus disertai dengan sistem pengelolaan kerja yang berbasis pada hasil atau output-based performance, bukan sekadar kehadiran.

“Penguatan sistem pemantauan kinerja digital, penetapan target kerja yang terukur, serta peningkatan disiplin dan tanggung jawab individu menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas,” tegasnya.

Selain itu, WFH juga dinilai cuma bersifat sementara dan tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi dalam menghadapi krisis energi.

Karena itu, cara ini harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas seperti penguatan ketahanan energi nasional, pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi sektor transportasi, dan percepatan digitalisasi aktivitas ekonomi.

Leave a Reply