Tren

Lulusan Baru di Indonesia Perlu 20 Bulan Buat Dapat Kerja

Pencari kerja melakukan registrasi di job fair Jobstreet. (TopCareer.id/Irsyad Fajri)

TopCareer.id – Durasi rata-rata yang dibutuhkan untuk pencari kerja lulusan baru di Indonesia mendapatkan kerja usai lulus mencapai hampir 20 bulan.

Hal ini diungkap dalam Labor Market Brief Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bertajuk “Transisi Tenaga Kerja di Indonesia: Profil dan Gambaran Durasi Pencarian Kerja.”

“Perhitungan dari data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan bahwa durasi rata-rata untuk mendapat kerja setelah menyelesaikan pendidikan terakhir di Indonesia adalah 19,8 atau hampir 20 bulan (1 tahun 8 bulan),” tulis laporan tersebut.

LPEM FEB UI menyebut, salah satu faktor penentu utama durasi pencarian kerja adalah tingkat pendidikan.

Meski secara teori, pendidikan yang lebih tinggi akan meningkatkan peluang kerja (Pasay & Indrayanti, 2012), pada praktiknya lulusan pendidikan tinggi di tanah air malah memiliki durasi pencarian kerja yang lebih panjang dibandingkan mereka yang berpendidikan lebih rendah.

Salah satu penjelasannya adalah karena pada mereka yang berpendidikan menengah ke bawah, pekerjaan yang tersedia tidak banyak menuntut persyaratan ketat sehingga apa pun akan dapat dikerjakan dan bisa dengan mudah terserap pasar kerja, asalkan mereka tidak keberatan melakukan pekerjaan tersebut, yang umumnya diasosiasikan dengan pekerjaan kasar (blue collar).

Baca Juga: Riset UI Ungkap Laki-Laki Lebih Putus Asa Cari Kerja Ketimbang Perempuan, Kenapa?

Selain itu, terdapat juga mismatch antara jurusan pendidikan yang diampu dengan ketersediaan lapangan kerja di berbagai sektor di pasar kerja, serta ekspektasi terhadap jenis pekerjaan dan tingkat upah yang lebih tinggi bagi lulusan pendidikan tinggi.

“Fenomena ini juga menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan belum sepenuhnya diiringi dengan keterhubungan yang kuat dengan dunia industri. Selain itu, faktor demografis seperti usia (perbedaan generasi pencari kerja) dan jenis kelamin turut memengaruhi perbedaan durasi pencarian kerja,” tulis laporan LPEM FEB UI.

Dalam data yang diolah dari Sakernas 2025, lulusan sarjana hingga doktoral (S1/S2/S3) pada generasi 1990-2000 cenderung memiliki durasi pencarian yang lebih panjang (18,28 bulan) ketimbang lulusan diploma (15,25 bulan).

Selain itu, durasi mencari kerja untuk lulusan Diploma semakin lama hingga generasi 2011-2025 (18,29 bulan).

Faktor lainnya juga terkait pengalaman kerja dan keterampilan praktis. Individu yang memiliki pengalaman kerja sebelumnya, mengikuti pelatihan, atau memiliki keterampilan teknis yang spesifik cenderung lebih cepat mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang belum memiliki pengalaman, seperti lulusan baru.

“Ketiadaan pengalaman kerja seringkali menjadi hambatan utama bagi pencari kerja muda, sehingga memperpanjang durasi pencarian mereka di pasar tenaga kerja,” tulis mereka.

Temuan lain menunjukkan adanya perbedaan yang terlihat dalam durasi transisi kerja berdasarkan lokasi wilayah dan karakteristik kawasan tempat tinggal.

Baca Juga: Pasar Kerja Makin Ketat, Job Fair Masih Bisa Jadi Penyelamat?

Secara umum, pencari kerja di wilayah non-Jawa membutuhkan waktu transisi kerja yang lebih lama dibandingkan dengan mereka yang berada di wilayah Jawa.

Ini mengindikasikan proses pencocokan antara pencari kerja dan lowongan pekerjaan di wilayah non-Jawa cenderung kurang efisien, yang kemungkinan terkait keterbatasan jumlah lapangan kerja formal, akses informasi pasar kerja, serta konsentrasi aktivitas ekonomi yang lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Jawa.

Ekspektasi upah (reservation wage) juga memengaruhi lamanya pencarian kerja.

Individu dengan ekspektasi upah tinggi cenderung lebih selektif sehingga perlu waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan, sedangkan mereka yang menghadapi tekanan ekonomi biasanya lebih cepat menerima pekerjaan meski tidak selalu sesuai dengan preferensi atau kualifikasi.

Perbedaan ekspektasi upah dipengaruhi oleh faktor demografi, pendidikan, dan lokasi tempat tinggal.

Penelitian Pasay dan Indrayanti (2012) menunjukkan, perempuan, tidak bersekolah, tinggal di desa, dan menikah memiliki reservation wage lebih rendah, sedangkan laki-laki, berpendidikan tinggi, tinggal di kota, dan belum menikah memiliki reservation wage lebih tinggi.

Selain itu, program jaminan kehilangan pekerjaan dapat memberi waktu bagi pencari kerja untuk mencari pekerjaan yang lebih sesuai, tetapi juga berpotensi memperpanjang durasi pencarian kerja.

Leave a Reply