ProfesionalTren

Riset UGM: Jadi Workaholic Juga Bisa Bikin Bahagia

Ilustrasi Sebanyak 79% pengguna AI di Asia Pasifik membawa dan menggunakan alat AI generatif mereka sendiri ke tempat kerja.Ilustrasi bekerja (Pexels)

TopCareer.id – Jika biasanya kebiasaan workaholic dianggap jadi pemicu burnout atau stres, sebuah riset yang dilakukan pada para karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) malah menemukan bahwa kerja berlebihan tak selalu bikin tidak bahagia.

hHsil riset Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM terhadap lebih dari 400 karyawan BUMN menunjukkan, dalam kondisi tertentu, kecenderungan workaholic dapat berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan dalam bekerja.

“Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan. Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” kata Reni Rosari, Guru Besar Departemen Manajemen, FEB UGM, mengutip laman resmi UGM, Selasa (9/6/2026).

Riset bertajuk Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia itu sendiri mengkaji peran kepemimpinan inklusif dalam menciptakan kebahagiaan kerja di tengah budaya kerja yang cenderung menuntut dedikasi tinggi.

Reni mengungkapkan, realitas organisasi di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Struktur organisasi yang hierarkis, target kerja yang tinggi, serta budaya kerja yang keras kerap dipandang sebagai bentuk loyalitas.

Dia mengungkapkan, ini membuat kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pengalaman kerja karyawan.

Baca Juga: Pekerja Keras Tak Sama dengan Workaholic, Apa Bedanya?

“Dalam konteks seperti ini, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut. Di sinilah, konsep inclusive leadership menjadi penting,” katanya dalam Program Research Series bertajuk Kepemimpinan Inklusif dan Kebahagiaan di Tempat Kerja.

Ia menjelaskan, konsep inclusive leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terbuka, adil, mudah diakses, dan secara aktif melibatkan karyawan dalam proses kerja.

Menurutnya, pimpinan yang inklusif bukan sekadar baik, namun juga menciptakan rasa aman secara psikologis, di mana setiap individu merasa dihargai dan didengar.

“Menariknya, kepemimpinan inklusif tidak langsung membuat karyawan bahagia. Ada mekanisme psikologis penting, yaitu thriving work,” katanya.

Reni mengatakan, thriving merupakan kondisi ketika individu tidak hanya produktif, tetapi juga merasa terus berkembang dan mengalami pertumbuhan dalam pekerjaannya.

Salah satu temuan dalam penelitiannya juga terkait dengan fenomena workaholism, yaitu kecenderungan bekerja secara berlebihan.

Dalam banyak penelitian, workaholism umumnya dikaitkan dengan stres, kelelahan, dan burnout dalam bekerja. Namun, di Indonesia, workaholism tidak selalu berkonotasi negatif.

“Budaya kolektivitas membuat kerja keras sering dianggap sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral,” Reni mengungkapkan.

Riset juga mencatat bahwa bekerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan. Laporan menyebutkan, individu yang memiliki kecenderungan workaholic justru bisa merasakan tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi, saat mereka thriving at work.

Artinya, menurut Reni, selama pekerjaan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang di lingkungan yang positif, kerja keras dapat menjadi sumber makna dan kepuasan.

Baca Juga: 5 Zodiak Paling Workaholic, Gak Kepikiran untuk Me Time!

Lebih lanjut, Reni mengatakan pemimpin organisasi memiliki peran yang cukup krusial.

Kehadiran pemimpin penting untuk memastikan bahwa ada keadilan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh di balik tuntutan yang tinggi. Ia berharap temuan dari penelitiannya tersebut dapat memberikan implikasi penting bagi organisasi.

Namun, Reni mengingatkan bahwa kebahagiaan kerja tidak cukup hanya dilakukan lewat penyediaan fasilitas atau insentif semata. Organisasi perlu membangun kualitas relasi yang sehat antara pemimpin dan karyawan.

Bagi individu, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak selalu berarti bekerja lebih sedikit.

Namun, kebahagiaan dapat muncul ketika pekerjaan dapat memberikan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menemukan makna dalam setiap kontribusi yang diberikan.

“Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan,” pungkas Reni.

Leave a Reply