Tren

Harga Pertamax Naik, Kelas Menengah Jadi Korban Lagi

Ilustrasi kerja (Freepik)Ilustrasi stres (Freepik)

TopCareer.id – Kenaikan harga Pertamax disebut bakal menambah beban kelas menengah yang saat ini tengah menghadapi berbagai himpitan ekonomi, setelah sebelumnya Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate jadi 5,50 persen.

Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta mengatakan, bagi kelas menengah, hal ini berarti cicilan rumah yang makin mahal, cicilan kendaraan makin berat, biaya antar jemput anak yang naik, ongkos bekerja yang membengkak, dan tabungan yang makin cepat terkuras.

“Rumusan masalahnya sederhana, tetapi menyakitkan. Mengapa kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional justru terus diperlakukan sebagai bantalan kebijakan?” kata Achmad dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (11/6/2026).

Achmad menyebut, kenaikan Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter berarti naik sekitar 32 persen. Bagi keluarga yang menggunakan 30 liter per minggu, tambahan biaya bisa mendekati Rp 474 ribu per bulan.

Menurutnya, bagi rumah tangga kelas menengah bawah, angka itu tidak kecil. Ini setara biaya listrik, iuran sekolah tambahan, paket internet keluarga, atau sebagian belanja dapur.

Achmad pun membantah anggapan yang menyebut bahwa Pertamax digunakan hanya oleh orang-orang mampu karena statusnya sebagai Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Tekanan Hidup Kelas Menengah Bertambah

“Cara berpikir seperti ini terlalu kasar. Tidak semua pengguna Pertamax adalah orang kaya. Banyak pemilik motor dan mobil kecil menggunakan Pertamax karena pertimbangan mesin, jarak tempuh, ketersediaan, atau karena ingin menghindari antrean,” katanya.

Ia mencontohkan, banyak pekerja komuter, guru, pegawai swasta, pekerja lapangan, dan pelaku UMKM kecil yang menggunakan kendaraan pribadi bukan untuk gaya hidup, tetapi karena transportasi publik belum memadai.

Kenaikan BBM ini pun juga akan mengerek biaya-biaya lain seperti logistik, antar barang, perjalanan kerja, distribusi UMKM, hingga layanan.

“Efeknya bisa menyebar ke harga makanan, jasa, dan kebutuhan harian. Kelas menengah lalu menghadapi tekanan ganda: pendapatan tetap, harga naik, dan cicilan berpotensi naik,” kata Achmad.

Dia menambahkan, dalam struktur konsumsi kota, perbedaan jenis BBM tidak selalu membatasi efek psikologis harga.

Ketika Pertamax naik tajam, ekspektasi harga ikut bergerak. Pedagang, pengemudi, penyedia jasa, dan distributor mulai menyesuaikan perhitungan.

“Pada titik ini, beban kelas menengah tidak hanya berasal dari pom bensin, tetapi juga dari warung, pasar, sekolah, bengkel, dan layanan harian,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 Mulai 10 Juni 2026

Achmad juga menyoroti bahwa meski kelas menengah atas cenderung lebih kuat, masih ada kelas menengah bawah yang mudah untuk turun menjadi kelompok rentan.

“Kelas menengah Indonesia kini hidup dalam paradoks. Mereka terlalu kaya untuk menerima bantuan, tetapi terlalu rapuh untuk menanggung semua beban sendiri,” katanya.

Menurutnya, kelas menengah diminta menjadi pembayar pajak yang patuh, konsumen yang aktif, debitur yang disiplin, orang tua yang berinvestasi pada pendidikan anak, sekaligus warga yang tidak banyak mengeluh ketika harga naik.

“Ini bukan keberlanjutan ekonomi. Ini eksploitasi diam diam terhadap kelompok yang paling tertib secara fiskal dan sosial,” kata Achmad.

Terkait kenaikan harga Pertamax, Achmad meminta agar pemerintah menjelaskan secara transparan mengapa lonjakannya sangat tajam. Menurutnya, harga disesuaikan karena formula pasar sehiingga publik berhak mengetahui komponen pembentuknya.

“Jika karena tekanan fiskal, pemerintah harus jujur bahwa beban fiskal sedang digeser ke konsumen. Transparansi penting agar masyarakat tidak merasa hanya diminta membayar tanpa diberi penjelasan,” ujar Achmad.

Leave a Reply