Lifestyle

Telur Ceplok vs Telur Dadar, Mana Lebih Sehat?

TopCareer.id – Sama-sama masakan telur yang gampang dibuat, mungkin masih banyak orang yang bingung mana yang lebih sehat: telur ceplok atau telur dadar?

Menurut Karina, Rahmadia Ekawidyani, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University mengatakan bahwa secara umum, keduanya punya kandungan gizi yang hampir sama.

Meski begitu, perbedaan utamanya adalah pada jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan selama proses pengolahan.

“Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” kata Karina, mengutip laman resmi IPB University, Kamis (23/7/2026).

Karina menjelaskan, telur dadar berpotensi memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi karena cenderung menyerap lebih banyak minyak.

Baca Juga: Telur Rebus, Menu Sehat untuk Perlancar Diet Kamu

Selain itu, penambahan bahan seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang di telur dadar juga dapat meningkatkan nilai energi pada hidangan tersebut.

Karina mengatakan, proses memasak justru memberikan manfaat terhadap kualitas protein telur. Menurutnya, pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

“Proses memasak telur dapat meningkatkan daya cerna dan penyerapan protein hingga sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen,” ujarnya.

Namun, dia mengingatkan supaya telur tidak dimasak dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu lama.

Suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60 sampai 80 derajat Celsius, sedangkan pemanasan di atas 150 hingga 160 derajat Celsius berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizinya.

Sementara, untuk masyarakat yang sedang menjaga berat badan. Karina merekomendasikan metode memasak tanpa minyak seperti merebus, membuat poached egg, atau mengukus.

Baca Juga: Jangan Buang Kuning Telur! Ini 5 Manfaat Hebat yang Wajib Kamu Ketahui

Telur ceplok atau dadar tetap bisa jadi pilihan makanan sehari-hari, asal penggunaan minyak dibatasi seperti dengan memakai wajan anti lengket atau minyak semprot.

Selain itu, Karina membantah anggapan kuning telur sebaiknya dihindari karena kandungan kolesterolnya. Menurutnya, bagian tersebut justru kaya akan vitamin dan mineral penting.

Berbagai studi terbaru juga menyebut konsumsi telur tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung.

Menurut Karina peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi pangan tinggi lemak jenuh dan lemak trans yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan sumber kolesterol.

Karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tidak ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, dengan tetap memperhatikan cara pengolahannya.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button