Edukasi

Ada Bahaya di Balik Sampah Elektronik, Edukasi Harus Mulai dari Sekolah

(Kanan) Leny Ng, President Director, Acer Indonesia Leny Ng dan (kiri) Rafa Jafar, Founder EwasteRJ sedang menaruh e-waste di dropbox e-waste Gerakan #SayangBumi. (Dok: Acer Indonesia)

TopCareer.id – Tak cuma sampah organik dan non-organik, edukasi soal sampah elektronik (e-waste) juga harus dimulai dari lingkungan sekolah.

Rafa Jafar, Founder EwasteRJ mengatakan sampah elektronik tak cuma handphone dan laptop, tapi juga barang-barang lain seperti TV, lampu, hingga berbagai jenis kabel yang tidak terpakai lagi.

“Kenapa mereka masuk kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) karena mereka ada potensi mengandung racun,” kata Rafa dalam acara peluncuran gerakan #SayangBumi di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Rafa, jika sampah elektronik dikelola dengan tidak bijak, ada risiko kontaminasi terhadap lingkungan sekitar.

Laporan Global E-waste Monitor 2022 mencatat, 62 juta ton e-waste dihasilkan di seluruh dunia setiap tahunnya dan 77,7 persen di antaranya belum didaur ulang dengan benar.

Baca Juga: TPST Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu Mulai 1 Agustus 2026

Global e-Waste Monitor 2024 juga menyebut bahwa Indonesia menjadi salah satu penghasil limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara, dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.

Leny Ng, President Director Acer Indonesia mengatakan, sebagian besar limbah elektronik di tanah air belum terkelola dengan baik dan benar.

“Fakta ini juga mengingatkan kepada kita bahwa di balik setiap inovasi, perlu ada komitmen, perlu ada tanggung jawab, untuk memastikan dampak terhadap Bumi bisa dikelola dengan cara berkelanjutan,” katanya.

Hal inilah yang mendorong EWasterJ dan Acer Indonesia menggandeng 50 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jabodetabek, untuk mengumpulkan limbah elektronik di lingkungan sekolahnya.

Selain itu, mereka juga akan menggelar workshop e-waste yang akan menjangkau ribuan siswa sepanjang Juni hingga November 2026.

“Kami memilih hadir di sekolah karena kami percaya bahwa generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan adalah generasi yang akan menentukan seperti apa bumi ini dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan,” kata Leny.

Baca Juga: Indonesia Salah Satu Penghasil Sampah Makanan Terbesar di Dunia

Kepada TopCareer.id, Rafa mengatakan bahwa edukasi adalah kunci untuk mengubah gaya hidup masyarakat.

“Kalau misalnya kita mulai dari lingkungan sekolah di mana anak-anak muda banyak yang excited dengan gerakan ini, dampaknya pasti akan multiply,” ujarnya.

Acer Indonesia menargetkan menargetkan pengumpulan 5 ton e-waste sepanjang program berlangsung, melampaui pencapaian 3 ton pada tahun sebelumnya.

Titik pengumpulan tersedia di 50 sekolah peserta, serta di sejumlah titik tambahan di wilayah Jabodetabek yang akan diumumkan secara bertahap.

Program ini pun terbuka bagi seluruh masyarakat yang ingin berkontribusi dalam pengelolaan limbah elektronik secara bertanggung jawab.

Leave a Reply