Mager Olahraga? Pakar Sarankan Mulai Slow Jogging
TopCareer.id – Jika kamu orang yang mager olahraga namun ingin mulai aktif bergerak, slow jogging bisa jadi alternatif yang mudah dan ramah bagi masyarakat.
Putri Utami, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University mengatakan, slow jogging punya manfaat terutama untuk meningkatkan kebugaran, kesehatan jantung, dan metabolisme tubuh tanpa memberikan beban fisik yang berlebihan.
Ia menjelaskan, slow jogging dilakukan dalam kecepatan santai atau niko-niko pace, yaitu intensitas sekitar 50 persen dari kapasitas aerobik maksimal dengan detak jantung berkisar 110 sampai 140 denyut per menit.
Kondisi ini memungkinkan tubuh bekerja pada zona yang optimal untuk meningkatkan fungsi kardiovaskular dan metabolisme.
“Pada intensitas tersebut, tubuh lebih banyak memanfaatkan lemak sebagai sumber energi dibandingkan glikogen otot,” kata Putri, mengutip laman resmi IPB University, Senin (3/8/2026).
Selain membantu mengurangi lemak tubuh, latihan ini juga merangsang pembentukan mitokondria dan pembuluh darah kapiler baru yang utama, untuk meningkatkan daya tahan tubuh dalam jangka panjang.
Baca Juga: Kapan Waktu Tepat Konsumsi Minuman Elektrolit Saat Olahraga?
Meski pembakaran kalori per menitnya lebih rendah dibandingkan jogging konvensional, manfaat adaptasi fisiologis yang dihasilkan dalam jangka panjang sangat mendekati.
Putri pun menjelaskan, slow jogging dapat menjadi pilihan olahraga yang efektif tanpa harus memaksakan tubuh bekerja pada intensitas tinggi.
“Slow jogging merupakan pintu masuk yang ideal bagi masyarakat yang selama ini jarang berolahraga,” katanya.
Putri mengatakan, selama ini banyak orang gagal mempertahankan kebiasaan berolahraga karena langsung memilih aktivitas dengan intensitas tinggi. Hal ini berisiko menyebabkan cedera maupun kelelahan berlebihan.
Teknik slow jogging pun menggunakan pendaratan pada bagian tengah kaki (midfoot strike), bukan tumit. Ini membantu mengurangi beban kejut pada lutut dan pinggul sehingga risiko cedera menjadi lebih rendah.
Putri menambahkan, selain meningkatkan kapasitas kebugaran, olahraga ini terbukti dapat memperbaiki fungsi gerak, sehingga cocok diterapkan bagi individu yang sebelumnya memiliki gaya hidup kurang aktif.
Baca Juga: Tips Mulai Aktif Bergerak Tanpa Harus ke Gym
Untuk kesehatan mental, aktivitas ritmis berintensitas ringan dapat merangsang pelepasan hormon endorfin, serotonin, dan dopamin yang berperan meningkatkan suasana hati, tanpa menaikkan hormon stres secara berlebihan.
Namun, Putri menegaskan bahwa keberhasilan sebuah olahraga tidak hanya ditentukan oleh intensitasnya, tapi juga konsistensi seseorang dalam melakukannya.
Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang cenderung lebih mudah dipertahankan karena tidak menimbulkan nyeri otot berlebihan setelah latihan.
Putri mengatakan, olahraga yang terbaik bukanlah yang paling berat, tetapi yang paling konsisten dilakukan.
“Saat tubuh tidak mengalami rasa pegal yang mengganggu aktivitas sehari-hari, motivasi untuk kembali berolahraga akan jauh lebih tinggi,” pungkasnya.



