Tren

CFD Rasuna Said Diklaim Sukses Tekan Polusi Udara di Jakarta

Ilustrasi Jalan H.R. Rasuna Said. (Korlantas Polri)

TopCareer.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) di Jalan H.R. Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, dapat mengurangi emisi kendaraan bermotor, serta menekan polusi udara di Jakarta.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta kembali mengadakan CFD Rasuna Said mulai Minggu (7/6/2026) pukul 05.30 hingga 09.00 WIB.

Dudi Gardesi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengatakan, sektor transportasi masih jadi salah satu penyumbang utama pencemaran udara di Jakarta.

“HBKB di Rasuna Said dan kawasan Sudirman–Thamrin menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi kendaraan bermotor sekaligus mendorong masyarakat beralih ke moda transportasi yang lebih ramah lingkungan,” kata Dudi, mengutip siaran pers, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga: TPST Bantargebang Juara 2 Penyumbang Gas Metana Terbesar di Dunia

Dia mengungkapkan, kualitas udara Jakarta dalam beberapa waktu terakhir sempat berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.

Berdasarkan grafik konsentrasi PM 2,5 saat pelaksanaan CFD pada 7 Juni 2026, konsentrasi PM 2,5 di Bundaran HI mengalami peningkatan pada dini hari dan mencapai puncaknya sekitar pukul 03.00 dengan angka 86,15 mikrogram per meter kubik.

Konsentrasi menurun secara bertahap selama pelaksanaan HBKB, dari 77,75 mikrogram per meter kubik pada pukul 04.00 menjadi 75,62 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00, lalu menjadi 68,93 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00, 62,70 mikrogram per meter kubik pada pukul 07.00, hingga sekitar 60,30 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 dan 10.00.

Secara keseluruhan, penurunan konsentrasi dari puncak hingga periode HBKB mencapai sekitar 27 mikrogram per meter kubik atau sekitar 31 persen.

Baca Juga: TPST Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu Mulai 1 Agustus 2026

Pola serupa juga terlihat pada SPKU Mobile di Rasuna Said. Konsentrasi PM 2,5 menurun dari 76,10 mikrogram per meter kubik pada pukul 03.00 menjadi 71,10 mikrogram per meter kubik pada 04.00, 61,4 mikrogram per meter kubik pada pukul 05.00, dan di kisaran 54,9 hingga 55,5 mikrogram per meter kubik pada jam 06.00 sampai 09.00.

Menurut Dudi, temuan itu mengindikasikan adanya penurunan konsentrasi PM2,5 dibandingkan puncak pada dini hari. Penurunan ini diduga terkait berkurangnya aktivitas lalu lintas kendaraan di kawasan pusat kota, selama kegiatan CFD.

Ia berharap agar selain menyediakan ruang publik yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat, pelaksanaan HBKB juga bisa meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kualitas udara. Menurutnya, pengendalian polusi udara butuh keterlibatan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

Warga pun juga diajak mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memanfaatkan transportasi umum, berjalan kaki, atau bersepeda dalam aktivitas sehari-hari.

“Perubahan pola mobilitas masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta,” pungkas Dudi.

Leave a Reply