TopCareer.id – Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, “dinobatkan” sebagai juara dua penyumbang gas metana terbesar di dunia, menurut laporan Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills.
Laporan STOP Methane Project dari University of California, Los Angeles (UCLA) School of Law berdasarkan data Carbon Mapper ini memberikan daftar peringkat mengenai emisi metana terbesar yang terdeteksi satelit.
Laporan ini memeringkat 25 fasilitas pengelolaan limbah di 18 negara, baik negara maju maupun berkembang dari berbagai tingkat pendapatan dan wilayah dunia.
Lokasi-lokasi yang masuk daftar tersebut bertanggung jawab atas tingkat emisi per jam paling tinggi yang terdeteksi instrumen satelit di seluruh dunia, dengan laju emisi berkisar antara 3,6 hingga 7,5 ton metana per jam.
Menurut daftar itu, TPST Bantargebang di Bekasi berada di posisi dua dengan tingkat emisi mencapai 6,3 ton per jam, dengan area layanan Jakarta dan operator yang kemungkinan bertanggung jawab adalah Pemerintah DKI Jakarta.
Baca Juga: Indonesia Salah Satu Penghasil Sampah Makanan Terbesar di Dunia
Posisi teratas adalah Campo de Mayo, Buenos Aires, Argentina, dengan tingkat emisi mencapai 7,6 ton per jam.
Mengutip laman resmi UCLA, sumber yang melepaskan 5 ton metana per jam akan memberikan dampak pemanasan global tahunan setara dengan sekitar 1 juta SUV.
“Banyak lokasi ini berada dekat kota, dan emisinya menimbulkan risiko nyata bagi kesehatan masyarakat,” kata Cara Horowitz, direktur eksekutif UCLA Emmett Institute sekaligus pemimpin proyek.
Ia pun mengatakan, pemerintah dan pengelola tempat pembuangan sampah harus mengambil langkah praktis untuk mencegah semburan besar ini.
Horowitz menyebut, selama bertahun-tahun metana menjadi polutan tersembunyi karena tidak terlihat dan luput dari perhatian.
“Namun kini kita dapat melihat emisi besar dan berbahaya ini melalui satelit dan menjadikannya sebagai peringatan bagi dunia,” pungkasnya.
Baca Juga: Perpustakaan Sampah, Upaya Tingkatkan Minat Baca dan Kesadaran Lingkungan
Mengutip laman Aliansi Zero Waste Indonesia, gas metana (CH4) merupakan hasil dari proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme di lingkungan yang kurang oksigen.
Gas metana memang tidak beracun, tetapi dapat menjadi ancaman serius jika menumpuk dalam jumlah besar, terutama karena potensi kebakaran yang dapat diakibatkannya.
Peningkatan suhu udara ekstrem dan kelembaban yang tinggi menjadi pemicu utama ledakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Akibatnya, gas metana yang dihasilkan dari aktivitas pembusukan sampah di TPA menjadi lebih mudah terbakar dan menyebabkan kebakaran yang sulit untuk dikendalikan.
Adapun, menurut Aliansi Zero Waste Indonesia, salah satu jenis sampah organik yang menimbulkan gas metana adalah sampah sisa makanan yang tak terolah dan bercampur di TPA.





