TopCareer.id – Doomjobbing kini banyak dialami oleh para pencari kerja yang sedang dalam proses mencari kerja.
“Doomjobbing” merupakan gabungan dari kata doomscrolling (terus menerus scrolling konten negatif di internet) dan job searching (mencari pekerjaan).
Fenomena dipicu oleh stres saat mencari kerja, membuat banyak pencari kerja terus menerus melakukan refresh situs lowongan pekerjaan dan buru-buru dalam melamar pekerjaan baru.
Para pakar pun memberikan beberapa tips agar proses pencarian kerja yang kamu lakukan tidak berujung pada stres dan malah membuat tidak produktif. Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan.
- Persempit pencarian
Mengutip CNBC Make It, Selasa (30/6/2026), pelatih karier Eliana Goldstein mengatakan, tips pertama yaitu dengan membuat proses mencari kerja tetap fokus.
Sebelum membuka situs lowongan kerja, pahami dulu pekerjaan dan peran yang paling sesuai dengan dirimu.
Di tengah ketatnya persaingan pasar kerja, melamar posisi yang tidak cocok hanya membuang waktu. “Kamu tidak bisa menjadi bunglon yang cocok untuk setiap pekerjaan yang tersedia,” ujarnya.
Baca Juga: Doomjobbing, Kala Cari Kerja Malah Bikin Makin Cemas
Ketimbang asal lempar lamaran sebanyak mungkin tanpa memilahnya, Gavin pun menyarankan pencari kerja untuk fokus pada satu lamaran untuk satu waktu.
Supaya tak tergoda untuk asal melamar, Goldstein menyarankan pencari kerja mengatur filter di situs lowongan agar hanya menampilkan posisi baru yang sesuai dengan pengalaman mereka.
- Batasi waktu melamar kerja
Menurut Jonathan Clanton, mantan talent acquistion yang juga mencari kerja, time blocking membantunya membangun pendekatan yang lebih sehat dalam mencari kerja sekaligus mengurangi kebiasaan doomjobbing.
Ketimbang terus-menerus membuka situs lowongan sepanjang hari, ia mengalokasikan waktu khusus setiap hari untuk tiga aktivitas saja.
Tiga kegiatan itu adalah melamar kerja, membangun jejaring dan menghubungi koneksi potensial, serta membuat unggahan di platform seperti LinkedIn untuk meningkatkan visibilitas profesional.
Baca Juga: Lulusan Baru di Indonesia Perlu 20 Bulan Buat Dapat Kerja
Di luar jadwal tersebut, ia berusaha melepas penat dengan berjalan kaki, bertemu teman, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Sementara, pelatih karier dan kepemimpinan Phoebe Gavin mengatakan, menetapkan batas waktu bisa mencegah proses mencari kerja mengambil alih aspek lain dalam hidup.
Ia juga menyarankan membuat batasan yang jelas mengenai waktu dan tempat di mana seseorang “sama sekali tidak” memeriksa notifikasi lowongan kerja, misalnya saat di tempat tidur atau sedang makan malam.
- Manfaatkan jejaring profesional
Daripada menghabiskan seluruh waktumu untuk mengirimkan lamaran, pencari kerja disarankan untuk memprioritaskan membangun dan memperkuat koneksi profesional.
Gavin melihat, kandidat yang masuk melalui jalur relasi atau rekomendasi cenderung mendapatkan pekerjaan lebih cepat, ketimbang mereka yang cuma mengandalkan situs lowongan kerja.
Menghubungi orang yang belum dikenal (cold outreach) tetap bisa menjadi bagian dari strategi. Namun, Goldstein menyarankan pencari kerja juga aktif menghubungi koneksi yang sudah mereka kenal.
“Pada akhirnya, memiliki referensi atau rekomendasi akan sangat meningkatkan peluang Anda untuk mendapatkan respons dan kesempatan kerja,” ujarnya.
Menurut Goldstein, meluangkan waktu untuk membangun hubungan dengan orang lain akan jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar terus-menerus menjelajahi situs lowongan kerja.






