TopCareer.id – Untuk membangun karier yang berkelanjutan, seorang profesional di bidang sumber daya manusia (SDM) atau HR juga membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.
Suryo Sasono, seorang pimpinan HR dalam Power Talks yang digelar Jobstreet by SEEK menyebut, profesional HR juga butuh konsistensi, pola pikir sistematis, hingga kemampuan belajar dan beradaptasi di berbagai konteks bisnis.
Suryo pun memberikan beberapa tips karier dan kepemimpinan bagi perusahaan dan profesional, yang ingin membangun kapabilitas jangka panjang di dunia kerja yang terus berubah.
- Karier bukan sprint, tapi maraton yang dibangun lewat konsistensi
Menurut Suryo, akselerasi karier bukanlah hasil keberuntungan semata. Pencapaian besar dalam karier merupakan akumulasi dari disiplin, kerja keras, dan proses belajar yang dijalani secara konsisten dalam jangka panjang.
Perspektif ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan karier yang sehat dibangun dari kebiasaan yang terus diulang, bukan dari hasil instan.
“Bagi saya, karier itu seperti maraton. Hasil akhirnya mungkin terlihat di permukaan, tetapi yang membentuknya adalah proses panjang, disiplin, dan konsistensi yang sering kali tidak terlihat,” ujarnya.
Baca Juga: Gen Z dan Milenial Lebih Pilih Karier Stabil daripada Cepat Jadi Bos
- Pola pikir engineering bisa membantu HR bekerja lebih sistematis
Latar belakang teknik yang dimiliki Suryo membentuk cara berpikir yang terstruktur dalam melihat persoalan organisasi.
Pendekatan ini terlihat dari caranya memetakan hambatan, mengurai bottleneck, dan memperbaiki proses kerja secara lebih efisien.
Ia mengatakan, dalam konteks HR, pola pikir semacam ini penting untuk memastikan bahwa fungsi SDM tidak hanya berfokus pada kebijakan, tetapi juga mampu menghadirkan solusi yang terukur bagi bisnis.
- Perspektif bisnis sangat penting untuk memperkuat peran HR
Suryo mengatakan, salah satu titik balik dalam perjalanan kariernya adalah saat dia memperoleh pengalaman yang memperluas sudut pandangnya, tentang bagaimana bisnis melihat fungsi HR.
Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa HR perlu memahami bahasa bisnis, target organisasi, dan kebutuhan pemimpin lintas fungsi agar dapat berkontribusi lebih strategis.
Dengan demikian, HR tidak berhenti sebagai fungsi pendukung, melainkan menjadi bagian penting dari pengambilan keputusan.
- Pimpinan perlu datang dengan prinsip empty glass saat masuk organisasi baru
Salah satu kualitas penting dalam kepemimpinan adalah kerendahan hati utnuk mendengarkan terlebih dulu.
Menurut Suryo, ketika masuk organisasi baru, penting bagi seorang pemimpin untuk datang dengan prinsip empty glass, yaitu memahami konteks, mendengar kebutuhan, dan membaca dinamika internal sebelum mendorong perubahan.
“Pendekatan ini penting agar transformasi yang dilakukan tidak sekadar terlihat cepat, tetapi juga relevan dan berkelanjutan,” katanya.
Baca Juga: 5 Tips buat Pimpinan biar Tim Tetap Solid Walau Beda Generasi
- HR yang kuat mampu membuat semua leaders berpikir seperti HR
Menurut Suryo, ukuran keberhasilan fungsi HR bukan hanya terletak pada kekuatan tim HR itu sendiri, namun pada kemampuannya membangun pola pikir people leadership di seluruh organisasi.
Artinya, HR yang efektif harus mampu menjadi jembatan yang mendorong para pemimpin bisnis untuk ikut memikirkan pekerja, engagement, dan perkembangan organisasi.
Pendekatan ini membuat pengelolaan SDM tidak berhenti di satu fungsi, tetapi menjadi tanggung jawab bersama di tingkat kepemimpinan.
Menurut Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, pertumbuhan karier tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tapi juga kualitas proses belajar, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk memahami bisnis secara lebih utuh.
“Ini menjadi pesan yang penting bagi profesional muda yang ingin membangun karier jangka panjang sekaligus relevan di dunia kerja yang terus berubah,” ujarnya.






