Mulai 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air yang merupakan perwakilan seluruh provinsi di Indonesia. Tiap provinsi diwakili sepasang remaja putra dan putri.
Istilah yang digunakan dari 1967 sampai 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan nama baru Pengibar Bendera Pusaka yaitu Paskibraka.
PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.
Dikutip dari berbagai sumber, Husein Mutahar juga sempat menjadi Duta Besar RI di Vatikan pada 1969 sampai 1973. Jabatan terakhirnya adalah Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri.
Husein Mutahar meninggal di Jakarta pada 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Sesuai keinginannya, ia dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut, Jakarta Selatan meski saat itu dirinya diizinkan untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Tak hanya sosok Bapak Paskibraka, Husein Mutahar juga seorang pembuat lagu. Dia dikenal dengan lagu-lagu kebangsaan dan anak, termasuk yang paling populer dan kerap dilantunkan sampai sekarang yaitu Syukur, Hari Merdeka, dan Hymne Pramuka.






