ProfesionalTren

Inovasi Grafena dari Limbah Plastik, Harga Meroket Drastis

TopCareer.id – Limbah plastik bisa disulap menjadi grafena (graphene) yang berkualitas industri dan berharga tinggi.

Solusi inilah yang dibawa oleh Sidhi Umbara dan startup-nya Ravelware dalam kompetisi CoCreate Pitch Indonesia 2026 yang digelar platform e-commerce business-to-business Alibaba.com.

Sidhi Umbara mengungkapkan bahwa Ravphene, yang dikembangkan oleh Ravelware, mengubah limbah plastik menjadi grafena kelas industri dan membantu pelanggan industri menerapkan material tersebut pada produk nyata.

Di sini, Ravelware mengubah limbah plastik menjadi grafena kelas industri juga dilakukan secara eksklusif, serta mengembangkan penerapannya untuk komponen pesawat, material pusat data, pelapis, dan penggunaan industri lainnya melalui proyek litbang pra-komersial.

“Kami adalah perusahaan pertama di Asia Tenggara yang memiliki paten teknologi untuk membuat graphene ini dari limbah plastik. Dari mesin, dari metode, dan dari cara membuat itu kami patenkan,” kata Sidhi kepada awak media di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Sidhi menjelaskan, graphene ditemukan pada 2011 di Inggris, namun metode pemanfaatannya masih tradisional. Selain itu, saat ini kebanyakan grafena di dunia diproduksi dari grafit yang bisa ditemukan di pensil.

“Metode kami menggunakan plasma exfoliation, jadi dari apapun yang mengandung karbon, karbonnya dipisahkan dari surface-nya, lalu kami jahit jadi ikatan yang lebih sempurna, lalu karbon itu menjadi graphene,” kata Sidhi.

Baca Juga: Wow! Sampah Plastik Global Bakal Naik 3 Kali Lipat pada 2060

Ia mengatakan, teknologi mereka pada dasarnya memisahkan karbon dari komponen plastik untuk ditingkatkan menjadi graphene.

Menurut Sidhi, industri graphene masih terbilang “blue ocean” atau masih belum banyak dijelajahi, karena material ini terbilang mahal dan hanya bisa dimanfaatkan oleh produk-produk high-end.

“Yang paling gampang sekarang main padel, main tenis, atau sepeda, coba lihat raket atau bodi sepeda yang paling mahal itu pasti karbon GRPH. Cuma impian kami tidak mau graphene itu hanya duduk di singgasana,” kata Sidhi.

Menurutnya, graphene punya potensi untuk jadi material yang lebih terjangkau dan bisa dimanfaatkan di lebih banyak industri seperti cat, konstruksi, hingga infrastruktur.

“Karena itu goal kita adalah menurunkan produksi dengan harga jual graphene itu, makanya kita memanfaatkan material limbah,” kata Sidhi.

Baca Juga: Upaya Ciptakan Lapangan Kerja Green Jobs dari Bongkar Limbah Elektronik

Sidhi mengungkapkan, metode yang mereka gunakan juga membuat nilai graphene dari limbah plastik jadi lebih tinggi.

Ravelware biasanya mengambil limbah plastik yang sudah tercacah dengan nilai Rp 10.000 sampai Rp 12.000 per kilogram. Namun usai graphene dijual ke industri, harganya bisa mencapai 5 hingga 10 dolar per gram. Selain itu, sisa materi plastik lain juga akan terurai karena ditembak dengan energi listrik.

Meski berharga tinggi, Ravphene disebut lebih murah jika dibandingkan graphene berkualitas industri lain yang dijual di platform Alibaba.

Sidhi menyebut salah satu hal yang membuat harga graphene Ravelware lebih murah ketimbang rata-rata graphene berkualitas industri lain yang sama adalah karena bahan dasarnya dari limbah plastik, tenaga lokal, serta teknologi yang 30 persen lebih cepat kecepatan produksinya.

“Karena itu kita bisa lebih efisien dalam biaya produksi. Saat ini skala produksi kami 1,5 ton per bulan,” kata Sidhi.

Inovasi yang jadi juara kompetisi

Inovasi Sidhi di sektor graphene ini pun sukses membawanya sebagai juara pertama dalam CoCreate Pitch Indonesia 2026.

Ia berhasil mengalahkan lebih dari 5.000 pendaftar dari kalangan UMKM, startup, calon wirausahawan, dan inovator mahasiswa di seluruh Indonesia. Dari jumlah pendaftar tersebut, hanya 10 tim terpilih yang berkompetisi di babak Grand Final.

Ravphene dari Ravelware pun mendapatkan juara pertama diikuti Doktertaniku di posisi kedua; dan bumbi di posisi ketiga. Ketiga pemenang berkesempatan menghadiri CoCreate Global Summit 2026 di London pada November mendatang.

Roger Luo, Head of South and Southeast Asia Business, Alibaba.com mengatakan, kewirausahaan berbasis produk kini tak hanya bergantung pada ide yang kuat, tapi juga semakin bergantung pada kemampuan mewujudkan ide tersebut menjadi produk dan menghubungkannya dengan peluang pasar global.

“Indonesia memiliki semangat kewirausahaan yang luar biasa, potensi inovasi yang besar, dan ekonomi digital yang tumbuh pesat,” kata Roger.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button