Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, June 4, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Alasan Kenapa Pekerjaan Kurasi Seni Tak Bisa Sebentar

Topcareer.id – Mengumpulkan ragam karya atau informasi sejarah yang kemudian dikumpulkan menjadi suatu gagasan dan dipublikasikan dalam pameran, bukan proses sebentar. Ada beberapa faktor penyebab kenapa waktu pengerjaan mengkurasi seni menjadi gagasan itu terbilang lama.

“Kalau skala besar kadang bisa sampai bertahun-tahun. Kayak saya mempersiapkan Jogja Biennale itu bisa satu setengah tahun hingga 2 tahun. Kalau pamerannya lebih kecil, ruangannya lebih kecil, paling 5-6 bulan,” kata Alia Swastika, seorang kurator kepada TopCareer.id di JCC Senayan, Sabtu (5/10/2019).

Alia menyampaikan, waktu yang dihabiskan untuk mengkurasi karya dalam pameran minimal paling sebentar itu 4 bulan. Rasanya sulit jika pengerjaan bisa kurang dari lama waktu tersebut.

Selain dari skala pameran, yang membuat proses meng-kurasi ini lama juga dari proses research (riset). Ada kalanya juga pembentukan gagasan menjadi sebuah pameran itu tak hanya mengumpulkan karya-karya yang sudah jadi sebelumnya.

“Karena kalau karyanya sebagian udah jadi sih lebih gampang ya, tapi kadang-kadang kan kami minta seniman untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan konsep kami. Seniman bikin karya itu kan waktunya cukup lama, biasanya itu juga sih yang bikin lama,” ucapnya menambahkan.

Selama proses itu, Alia harus selalu menjaga komunikasi dengan senimannya, mulai dari progres seperti apa hingga kecocokan karya dengan gagasan yang sudah disepakati di awal. Kadang, di tengah jalan ada saja karya yang ternyata tak sejalan dengan visi yang dibangun.

Kalau sudah begitu, maka Alia akan melakukan diskusi lebih lanjut agar seniman bisa menghasilkan karya sesuai tema. Bakal ada yang namanya negosiasi di tengah proses meng-kurasi karya seni.

“Kita bisa diskusi. Bisa nggak ya dibuat gini sedikit. Jadi negosiasinya cukup lama. Kalau idealnya bisa nego seperti itu. Seniman sekarang kan lebih terbuka ya,” kata kurator Biennale Jogja ini.

Pada praktik kerjanya, kurator bakal menggali ide atau gagasan yang mengemuka terlebih dulu, kemudian melakuka riset. Setelah itu, mengumpulkan karya yang terkait tema hingga masuk ke ruang-ruang publik. *

Editor: Ade Irwansyah

Leave a Reply