Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Thursday, November 21, 2019
redaksi@topcareer.id
Profesional

Apa Profesi Kurator Seni Masih Belum Menjanjikan di Indonesia?

Topcareer.id – Sebagai jembatan antara seniman dan penyelenggara pameran, pekerjaan kurator masih belum familiar di telinga orang kebanyakan. Kurator seni dianggap sebagai profesi yang belum menjanjikan meski kini banyak galeri seni bermunculan.

“Full time kurator itu jarang banget di Indonesia. Kerjaanya nggak akan cukup kalau sebagai pilihan hidup. Jadi harus punya keahlian yang lain,” ucap Alia Swastika kepada TopCareer.id usai acara The Curious Case Of Curators: Do They Have The Easiest Job In The World? Idea Fest, Sabtu (5/10/2019).

Alia menambahkan, ada yang menyambi sebagai penulis, ada juga yang mengajar. Alia mengaku jika hanya menjadikan kurator sebagai pekerjaan utama dan tak ada job lainnya, maka dinilai tak akan cukup.

Kecuali, kurator itu memang bekerja di institusi atau museum tertentu dengan gaji bulanan, jadi agak lumayan. Tapi, lagi-lagi, Alia menyebut jarang sekali ada kurator yang dipekerjakan institusi secara full time.

“Kayak hampir semua galeri di Indonesia kan tidak memperkejakan kurator. Sedikit kemungkinan untuk punya jaminan ekonomi. Nggak semua lembaga negara (mempekerjakan kurator). Museum Nasional, Galeri Nasioal punya tim kuratorial, tapi juga nggak memberi posisi yang cukup kuat,” ujarnya.

Jadi, lanjut Alia, jika ingin memperkuat posisi kurator sebagai profesi yang menjanjikan, perlu ada semacam strategi kebudayaan di mana setiap taman budaya, programer-nya adalah kurator. Ia menilai susah mencari institusi yang bisa menaungi kurator secara kuat.

Sementara melihat ke luar negeri, galeri komersial dengan skala besar kerap mempekerjakan kurator bulanan. Tapi, itu juga hanya sebagian. Untuk galeri kecil kebanyakan menyewa kurator independen.

“Kalau senimannya butuh mereka hire, kalau senimannya nggak butuh ya nggak usah juga. Kalau di sana  (luar negeri) bergantung sama institusi private (swasta) atau negara.” *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply