Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Wednesday, November 13, 2019
redaksi@topcareer.id
Profesional

Yuk, Cek Soal Work Life Balance di Negara-negara Lain

Topcareer.id – Kesimbangan pekerjaan dengan kehidupan pribadi atau sering dikenal juga dengan work life balance kian penting. Banyak indikasi yang memperlihatkan seseorang mencapai work life balance. Di tiap negara pun ternyata punya work life balance yang berbeda-beda.

OECD, yang menyusun Indeks Kehidupan yang Lebih Baik, menyatakan bahwa banyak faktor digunakan untuk menghitung work life balance negara-negara di dunia. Berikut beberapa negara dengan pencapaian work life balance yang berbeda-beda dilansir dari Bustle.

Australia

OECD melaporkan bahwa Australia memiliki nilai rata-rata 7,3 untuk menilai kepuasan umum dengan kehidupan dari skala 0-10. Bahkan nilai itu lebih dari rata-rata OECD, yakni 6,5. Namun, secara komparatif, Australia sebenarnya tidak sebaik itu dalam work life balance.

“Pekerja fulltime menghabiskan 60 persen dari hari mereka rata-rata, atau 14,4 jam untuk perawatan pribadi (makan, tidur), dan bersantai (bersosialisasi dengan teman dan keluarga, hobi, permainan, komputer dan penggunaan televisi, dll). Itu kurang dari rata-rata OECD 15 jam,” menurut OECD.

Kanada

Orang-orang Kanada jauh lebih baik daripada AS atau Australia dalam indeks OECD, tetapi mereka masih tertinggal di belakang sejumlah besar negara-negara Eropa, terutama negara-negara Skandinavia di mana ada banyak jaring pengaman sosial dan dukungan untuk orang tua yang bekerja.

Menurut OECD, 70 persen merupakan pekerja perempuan, dan hanya 1 persen bekerja long hours jika dibandingkan dengan 6 persen laki-laki yang bekerja. Flexible working jadi lebih populer di Kanada, dengan meningkatnya pembagian kerja dan waktu yang fleksibel. Khususnya membantu orang tua yang bekerja dianggap mencapai keseimbangan yang lebih baik.

Korea

Korea dianggap tidak begitu baik dalam work life balance karena jam kerja yang sangat tinggi. OECD memperkirakan bahwa lebih dari 13 persen karyawan bekerja lebih dari 50 jam seminggu. Namun, pemerintah berusaha untuk membuat work life balance lewat pengasuhan yang semakin mudah.

OECD melaporkan bahwa pengasuhan anak yang didanai pemerintah sekarang mengasuh sekitar 92 persen anak-anak Korea berusia antara 3 dan 5 tahun. Pemerintah juga telah memperkenalkan cuti hamil, cuti ibu dan cuti orang tua umum untuk membantu orang tua mengatasi persalinan.

Prancis

Orang Prancis bekerja keras, tetapi OECD berpikir bahwa ketidaksetaraan jender di tempat kerja menahannya. Sebanyak 78 persen perempuan bekerja fulltime. Perempuan bisa memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik di Perancis jika pasangan mereka meningkatkan pengasuhan anak mereka dan diberi cuti ayah yang lebih lama, dan struktur pendukung lainnya dari bos mereka.

Meksiko

Meksiko memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang terburuk dari semua negara yang diukur oleh OECD, dan Indeks menyoroti berbagai alasan untuk itu. Ada 30 persen karyawan yang bekerja lebih dari 50 jam seminggu.

“Terlepas dari Israel dan Turki, Meksiko memiliki tingkat kemiskinan anak tertinggi di OECD. Hampir satu dari empat anak Meksiko tinggal di rumah tangga miskin pada tahun 2011,” kata OECD.

Upaya telah dilakukan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mendorong lebih banyak perempuan untuk bekerja. Tetapi cuma sedikit cuti untuk ibu, dan kesenjangan kesetaraan luar biasa, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Menurut OECD, orang Meksiko bekerja lebih lama daripada pekerja di semua negara OECD lainnya, dan memiliki salah satu waktu perjalanan ke kantor terpanjang rata-rata di OECD, setelah Jepang dan Korea.

Semua mengatakan harusnya menambah banyak waktu untuk bekerja dan bepergian, tidak banyak dukungan untuk pekerjaan yang fleksibel bagi orang tua, dan budaya kerja yang tidak seimbang. *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply