Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Monday, November 18, 2019
redaksi@topcareer.id
Sekolah

Miris, Minat Baca Indonesia Peringkat 60 dari 61 Negara

Beberapa buku karya guru dan siswa dipamerkan di Festival Literasi (Topcareer,id/Wulan)

Topcareer.id – Minat baca masyarakat Indonesia tertinggal jauh dibanding negara-negara seperti Singapura dan Malaysia. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Indonesia menempati peringkat 60 dari total 61 negara. Artinya apa? Artinya tingkat literasi Indonesia sangat rendah.

Oleh karena itu pemerintah sejak lima tahun terakhir gencar menggiatkan gerakan literasi sekolah yang lebih diarahkan pada anak usia sekolah.

Festival Literasi di SMPN 2 Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2019)

“Beberapa program literasi sekolah yang wajib dilaksanakan di sekolah itu macam-macam. Seperti membuat pohon literasi di setiap kelas, membaca buku non pelajaran 15 menit sebelum jam pelajaran di mulai, dan membuat papan karya literasi siswa di setiap kelas.” ujar Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Sedan, Rembang Haryatun, kepada Topcareer.id disela-sela Festival Literasi yang diselenggarakan di halaman SMPN 2 Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2019).

Haryatun mengatakan selama ini masih banyak orang berpikir sempit tentang literasi itu hanya Bahasa Indonesia padahal tidak demikian. Semua segi kehidupan ini adalah literasi. “Literasi juga tidak sekedar membaca. Tapi lebih dari itu yakni mengajak siswa untuk memahami dan mengkritisi isi buku. Yang kurang saat ini ialah membaca dengan pemahaman”tegasnya.

Hal senada juga dikatakan Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat membuka acara Festival Literasi sekaligus meluncurkan 90 buku karya para kepala sekolah, guru dan siswa se-kabupaten Rembang.

“Literasi tak sekadar membaca buku, melainkan memahami, mengkritik makna yang ada sekaligus menambah wawasan, dan menjadi dasar agar anak-anak bisa berpikir lebih jauh. Dengan kegiatan ini saya berharap para guru dan siswa dapat membuat buku tentang potensi daerah dan kearifan lokal.”ujar Abdul Hafidz.

Sementara itu tuan rumah Festival Literasi, SMPN 2 Rembang selain mewajibkan semua siswanya membaca buku non pelajaran sebelum jam pelajaran dimulai, sekolah ini menampilkan produk literasi seminggu sekali.

Festival Literasi di SMPN 2 Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2019) disisi dengan kegiatan pameran, pelatihan jurnalistik, peluncuran buku dan pentas seni. (Topcareer.id/Wulan)

“Tiap hari Jumat ke-5 diadakan literasi dalam bentuk produk misalnya musikalisasi puisi, pembacaan puisi karya siswa, gerak & lagu, dramatisasi dan lain-lain sesuai dengan bakat siswa” jelas Guru Bahasa SMPN 2 Rembang, Eko Wahyono.

Pojok Literasi SMPN 2 Rembang Foto: Istimewa

Selain itu ada juga sudut baca di tiap kelas yang diberi nama Pojok Literasi.

“Pojok literasi itu semacam perpustakaan kecil di tiap-tiap kelas. Letaknya di sudut kelas paling belakang. Dalam loker atau almari kecil disimpan buku-buku fiksi yang bisa dibaca anak-anak. Juga bisa ditempel karya siswa. Bisa juga semacam mading kelas.

Pojok Literasi. Foto: Istimewa

Guru yang biasa disapa Eko ini, mengatakan Pojok Literasi ini wajib dibuat di setiap kelas mulai dari kelas satu sampai tiga karena dilombakan.

the authorRetno Wulandari

Leave a Reply