Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Friday, December 6, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Cerita Mario Teguh dan Krisis Paruh Baya: Mencari Hidup Baru Saat Tak Lagi Muda

Mario Teguh (dok. istimewa)

Topcareer.id – Kamu mungkin masih ingat dengan Mario Teguh. Ia pernha jadi motivator nomor wahid, punya acara TV saban pekan serta laris diundang ke mana-mana memotivasi orang. Namun, sebuah skandal soal anak biologisnya menghancurkan reputasi dan namanya. Ia lalu jarang tampil di TV lagi.

Bukan soal skandal Mario Teguh yang ingin kami bincangkan di sini. Namun justru bagaimana ia mengawali kiprahnya sebagai motivator. Ia pernah bercerita, tahun 1994, Mario memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Vice President Marketing & Organization Development sebuah bank.

Keputusannya untuk mundur bukan karena ketidaknyamanan kondisi kerja seperti dirasakan pegawai lain yang resign dari profesinya. Mario memilih untuk tinggal di sebuah garasi yang disulapnya menjadi kediaman mungil dan memulai bisnis barunya hingga akhirnya populer sebagai motivator nomor wahid di Indonesia.

Baca juga: Sering Merasa Sepi di Tengah Keramaian? Ini Alasannya

Apa yang dialami Mario Teguh diklasifikasikan oleh psikolog Carl Jung sebagai “midlife crisis” atau krisis paruh baya. Fenomena ini lazim terjadi pada orang-orang di usia 40-60 tahun dan menjadi bagian normal dari proses pendewasaan diri.

Dalam kondisi ini, seseorang akan merasakan transisi emosional yang menimbulkan keinginan mengubah pola hidup.

Bagi sebagian orang, krisis paruh baya cukup menyulitkan. Ketidaknyamanan secara emosional dapat menyulut timbulnya depresi. Laman Divorce Solution menyebutkan ciri-ciri seseorang yang tengah ditimpa krisis paruh baya.

  • Tidak bahagia dengan kehidupan dan gaya hidup yang telah dijalani
    selama bertahun-tahun.
  • Bosan dengan orang-orang dan hal-hal yang biasanya disukai.
  • Keinginan untuk berpetualang dan melakukan perubahan.
  • Mempertanyakan keputusan yang telah diambil selama bertahun-tahun.
    Kebenaran serta bukti dari keputusan ini pun seringkali dipertanyakan.
  • Kebingungan mengenai jati diri dan tujuan hidup.
  • Marah dan menyalahkan pasangan atas depresi yang mereka alami.
  • Sulit membuat keputusan mengenai apa yang akan mereka lakukan.
  • Ragu pada perasaan cinta terhadap pasangan, bahkan menyesal telah menikah.
  • Keinginan untuk mencari pasangan dan hubungan baru.

Laman Good to Know menambahkan beberapa ciri lainnya, antara lain:

  • Mundur dari pekerjaan
  • Bosan pada hubungan pernikahan, hingga akhirnya memutuskan untuk bercerai
  • Selingkuh
  • Memulai kebiasaan minum-minum
  • Merasakan depresi, marah, dan bosan
  • Berhenti melakukan hubungan seks dengan pasangan
  • Insomnia
  • Mengalami hypochondria atau merasakan kesedihan yang tak beralasan
  • Mempertanyakan manfaat dari hal-hal yang selama ini membuat hidupnya bahagia

Gejala-gejala yang berkaitan dengan hubungan seksual dan ikatan pernikahan yang menyebabkan terjadinya perceraian dan perselingkuhan, seringkali disebut sebagai “puber kedua”.

Inilah yang membuat perselingkuhan banyak terjadi di usia 40 hingga 60-an, kala seorang pria menginginkan istri yang lebih muda dan lebih segar dari istrinya sekarang. Keinginan ini didorong oleh rasa penasaran dan keinginan untuk berpetualang.

Baca juga: Do’s and Don’ts Saat Kamu Bersahabat dengan Bos

Krisis paruh baya bukanlah hal yang buruk jika kamu mampu mengolahnya menjadi hal yang positif. Dalam contoh kasus Mario Teguh, keputusannya untuk lepas dari pekerjaan yang selama ini membuatnya hidup berkecukupan, ternyata mampu mengeluarkan bakat terpendamnya sebagai seorang konsultan dan motivator.

Untuk membuat kondisi krisis paruh baya tak lagi menyeramkan dan merugikan bagi kamu dan pasangan, cobalah untuk melihatnya dari segi berbeda. jika kamu bosan setiap hari dikungkung kewajiban di tempat kerja, secara bertahap sisihkan waktu untuk merawat diri sendiri.

Ubahlah diri kamu menjadi seseorang yang lebih baik dalam menjaga kesehatan dan merawat kebugaran tubuh. Dengan kebugaran yang selalu terjaga, kamu akan menatap setiap tantangan sebagai petualangan seru.

“Lihatlah hal ini sebagai fase baru dalam hidup kamu, sebagai kesempatan untuk melakukan semua hal secara berbeda, lebih bebas, dan berhenti menghabiskan waktu,” usul psikolog Paula Hall.

Saat merasa jenuh dengan pola pikir yang selama ini kamu gunakan, inilah waktunya untuk introspeksi diri dan melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang. Jangan korbankan pasangan dan keluarga dalam kondisi ini. Jika belum juga menemukan sisi positifnya, jangan ragu untuk mendatangi psikiater dan konsultasikan permasalahan kamu.* Diolah dari berbagai sumber

ade.irwansyah@gmail.com'
the authorAde Irwansyah

Leave a Reply