Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, August 8, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Belanja Barang Mewah Tingkatkan Percaya Diri, Benarkah?

Sumber foto: tsingapore

Topcareer.id – Menjadikan belanja sebagai obat untuk menghilangkan stres atau meningkatkan mood memang sering jadi pilihan bagi sebagian orang. Bahkan studi menyebut berbelanja barang mewah bisa meningkatkan kepercayaan diri.

Studi dari Boston College dan Harvard Business School menunjukkan bahwa dari sudut pandang emosional, terapi ritel dengan belanja barang mewah biasanya membuat nyaman karena bisa meningkatkan harga diri, kepuasan dan kedudukan sosial.

“Studi menunjukkan bahwa konsumen sangat tertarik pada kemewahan ketika mereka merasa kurang percaya diri dan kurang kuat dibandingkan yang lain,” kata Nailya Ordabayeva, penulis studi dan profesor pemasaran di Boston College Carroll School of Management dalam CNBC Make It.

“Mereka mengantisipasi untuk mengalami peningkatan kepercayaan dan kekuatan dengan membeli dan mengkonsumsi kemewahan,” lanjutnya.

Baca juga: Kemana Milenial Membelanjakan Uang Mereka?

Namun, tidak semua orang mendapat dorongan yang sama. Beberapa orang justru kehilangan kepercayaan diri ketika mereka memiliki barang mewah.

Sebagai contoh, seseorang mungkin merasa malu atau merasa tidak menjadi diri sendiri ketika mengenakan arloji kelas atas atau barang perhiasan mencolok. Para peneliti menyebut fenomena yang tidak nyaman ini sebagai sindrom penipu dari konsumsi hal mewah.

“Jadi pada akhirnya, kemewahan mungkin secara tak sengaja berakhir menjadi bumerang dan merusak kepercayaan dan kekuatan mereka, bertentangan dengan apa yang diharapkan konsumen,” kata Ordabayeva.

Para peneliti menemukan perasaan ini lazim di antara semua jenis konsumen, dari yang dianggap sebagai “target pasar mewah” hingga konsumen kelas menengah.

Baca juga: 5 Kebiasaan Ini Bikin Dompet Kamu Tipis!

Beberapa orang tidak memiliki keraguan memamerkan pakaian atau aksesoris mewah karena mereka percaya mereka berhak atas itu. Atau mereka pikir hal mewah tersebut pantas diberikan pada kesempatan khusus. (Dalam penelitian ini, sekitar 30% orang.)

Tetapi yang lain merasa tidak nyaman memiliki barang-barang mewah karena mereka percaya itu adalah hak istimewa yang tidak semestinya dan tidak layak, bahkan meski mereka mampu memiliki barang-barang ini.

Yang menarik, perasaan-perasaan buruk ini mereda ketika pembeli menerima pesan pemasaran yang menyarankan mereka pantas menerima produk.

“Penting bagi konsumen untuk merenungkan dengan jujur ​​apakah barang itu akan mewakili siapa mereka sebenarnya. Jika tidak, barang tersebut akan berakhir di tempat yang tidak digunakan, di bagian belakang lemari atau garasi seseorang, karena rasanya tidak otentik dan tidak benar.”

Editor: Feby Ferdian

Leave a Reply